Permulaan

Di suatu kafe dengan suasananya yang sudah mulai ramai. Terlihat hirukpikuk orang-orang yang sedang menikmati aktifitasnya, meminum kopi, berselancar di dunia maya, serta berbincang-bincang dengan rekan-rekannya. Namun, tengah hiruk pikuk orang-orang yang bahagia itu, terduduk seorang lelaki dengan begitu resah. Lelaki itu bernama, Nugi.

Pagi itu, Nugi terlihat sedang menatapi layar laptop yang berusaha memuat situs pengumuman penentu masa depannya. Sedari pagi buta, Nugi berusaha mengakses situs itu, namun, dia tak pernah berhasil. Ia sempat mengira kegagalan itu akibat koneksi modemnya yang lambat. Ia berharap dengan mengandalkan hotspot di kafe ini, dapat mempermudah laptopnya untuk menampilkan situs yang ia tuju. Namun ternyata, hasilnya tetap saja sama, usaha dari koneksi hotspot tersebut sejalan dengan usaha modem miliknya yang selalu gagal.

Sudah hampir dua jam, Nugi duduk dengan begitu risau. Namun, koneksi hotspot kafe tersebut masih tak mampu menampilkan situs yang dituju olehnya. Demi menghilangkan rasa penat, Nugi mendengarkan musik sembari membuka media sosialnya. Ketika dia asik men-scroll timeline twitternya, Nugi pun mendapatkan kepastian bahwa situs yang dia tuju mengalami down.

“Situs pengumuman SNMPTN down. Dikarenakan terlalu banyak yang berusaha mengaksesnya dalam waktu bersamaan.” Bunyi tweet dari sebuah akun berita ternama di Indonesia.

Shit!!! Pantes aja susah banget dibukanya.” Gerutu Nugi sambil menggebrak meja dengan jemarinya.

Malam pun tiba, tersiar kabar tentang situs pengumuman SNMPTN sudah dapat diakses kembali. Nugi yang masih diliputi rasa penasaran dengan hasil yang akan diterimanya, kembali berusaha mengunjungi situs itu. Namun, ternyataan hasilnya tetap saja sama, situs itu masih belum bisa diakses. Tetapi hal itu tak sedikitpun menyurutkan semangat dan rasa penasaran Nugi untuk tetap mengakses situs tersebut. Ia pun terus berusaha dengan sabar menunggu hingga laptopnya berhasil menampilkan situs yang ia tuju.

Akhirnya, saat yang Nugi tunggu-tunggupun tiba, situs yang ditujunya sudah dapat menampilkan halaman muka situs pengumuman SNMPTN itu. Dengan bergegas Nugi memasukkan User Name dan Password-nya, cukup lama situs itu memuat profil Nugi, sehingga Nugi merasa gemas sekali dibuat situs itu. Sembari menunggu dengan rasa gemas yang amat sangat, Nugi pun mengetuk-ngetukkan jemarinya ke meja, ia berharap rasa gemasnya tersalurkan dengan melakukan itu. Tanpa aba-aba kakinya pun ikut bergoyang-goyang, menandakan bahwa dia sedang tidak sabar akan sesuatu hal, yaitu pengumuman SNMPTN-nya.

“ANDA DINYATAKAN TIDAK LULUS.” dengan tulisan capslock situs itu memaki Nugi.

“Gak mungkin,” ujar Nugi dalam hati. seketika Nugi merasa badannya diremas hingga remuk, tenggorokannya tercekat, pikirannya menolak, dan hatinya terus berusaha mencari pembenaran. Berharap ini hanya mimpi. Nugi menampar mukanya sendiri. Dia pun merasakan kesakitan. “Ini sangat nyata!!!” bisiknya dalam tundukan kekalahan.

Dia merasa sangat frustasi, telapak tangannya menopang kepalanya, jemarinya mencengkram dengan kuat helai-helai rambut yang tertanam dikepalanya. “Ini nyata!!!” gumamnya dalam hati.

Nugi yang masih merasa tidak percaya dengan hasil yang didapatnya, berharap ia hanya salah membaca. Ia pun memberanikan diri untuk menatap kembali layar laptopnya. Namun, dia sadar dia tak keliru membaca tulisan yang begitu besar dan ditulis dengan huruf capslock, hanya saja dia menghiraukan kalimat dibaris kedua, yang baru dia sadari setelah menatap lekat-lekat makian kegagalan dari situs tersebut.

“Dan, selamat anda diterima di Universitas pilihan ke-2!”

Saat melihat kalimat dibaris ke dua itu, Nugi tak merasa bahagia sedikit pun. Nugi malah merasa semakin hancur. Universitas pilihan keduanya berada diluar kota, dan begitu jauh dari kota asalnya, yang berarti akan memisahkan dia dengan kekasihnya, juga sahabat-sahabatnya. Selain itu, Nugi juga tak mengetahui bagaimana rupa Universitas pilihan keduanya itu, karena saat itu ia asal memilih untuk memenuhi dua pilihan yang diberikan kepadanya.

Namun apa mau dikata? Tak mungkin dia mundur dan memilih berkuliah di kotanya dengan salah satu universitas swasta, dan melepas universitas berlabel negeri. Dan yang lebih penting dari itu, pasti kedua orangtua Nugi akan merasa bangga ketika anaknya mengenyam pendidikan di salah satu kampus negeri. Di balik kehancuran mimpi, serta harapan yang sudah terlanjur membumbung tinggi dibenaknya, Nugi tak menyadari bahwa ada cerita baru yang akan dimulai untuk menghiasi lembaran hidupnya.

Dan rencana Tuhan pasti selalu lebih baik, dan juga indah. Dibanding angan sang makhluk yang selalu berfantasi dengan sangat indah dan sempurna.

Trias Politica Menjadi Trias Coruptica

Trias politica adalah suatu konsep kenegaraan yang pertama kali dikemukakan oleh jhon locke dan dikembangkan oleh montesquieu, trias politica merupakan satu konsep tentang pemisahan kekuasaan, yang bertujuan untuk meminimalisir kesewenang-wenangan yang dilakukan penguasa. Menurut jhon locke pemisahan kekuasaan dari trias politica dibagi kedalam tiga lembaga, yaitu : Legislatif, Eksekutif dan Federatif. Sedangkan menurut Montesquieu pemisahan kekuasaan dari trias politica dibagi kedalam tiga lembaga, yaitu : Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif. Konsep trias politica yang banyak dianut diberbagai Negara mengacu kepada konsep trias politica Montesquieu. Pada awal dikemukakannya konsep trias politica oleh jhon locke pembagian kekuasaan dari tiga lembaga yang seharusnya terpisah dua kekuasaan berada ditangan raja atau ratu dan satu ditangan kaum bangsawan, namun pemikiran locke tidak sesuai dengan praktik trias politica pada masa kini. Dan lalu konsep trias politica ini dikembangkan oleh Montesquieu yang mana setiap kekuasaan dipegang oleh setiap lembaga yang berbeda, tidak ada lembaga yang merangkap kekuasaan sebagaimana yang dikemukakan oleh jhon locke, ketiga lembaga yang dimaksud Montesquieu adalah, lembaga Legislatif, lembaga Eksekutif, dan lembaga Yudikatif. Yang mana setiap lembaga ini memiliki kewenangannya sendiri-sendiri, seperti Kekuasaan untuk yang mengatur dan menentukan peraturan diberikan kepada badan legislatif, dan kekuasaan yang melaksanakan peraturan diberikan kepada badan eksekutif, serta kekuasaan yang mengawasi peraturan diberikan kepada badan yudikatif. Dalam mengawasi jalannya konsep trias politica ini, terdapat satu system yang dinamakan check and balance, yang mana setiap lembaga Negara tersebut saling mengawasi agar tidak terjadinya penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan disetiap lembaga. Salah satu prinsip dari check and balance ini adalah the four branches, the four branches ini adalah legislative, eksekutif, yudikatif, dan media. Tidak dapat dipungkiri media merupakan satu kekuatan yang besar untuk menjadi pengkontrol kekuasaan, saking besarnya pengaruh media hingga muncul kata-kata “siapa yang menguasai media maka akan dapat menguasai dunia”. Dan ini terbukti jika media sudah tunduk pada penguasa dan timbul berita-berita yang hanya sekedar pencitraan penguasa maka penguasa dapat berbuat semena-mena. Terlihat seperti pada masa orde baru, dimana media yang melawan rezim orde baru maka media tersebut akan ditutup. Bukan hanya menaikkan pamor mediapun dapat digunakan untuk menjatuhkan pamor seseorang, dengan berbagai “pemberitaan pesanan”, entah itu bertujuan politis atau bisnis. Jadi tidak dapat dipungkiri media adalah salah satu alat control kekuasaan yang efektif untuk mengawal jalannya kekuasaan apabila media itu tetap memiliki rasa professional, namun apabila media ditekan maka akan terjadi kesewenang-wenangan. Apabila media yang berperan sebagai tim check and balance dalam konsep trias politica ini, dapat tahu bagai mana legislatif menyusun anggaran, bagaimana eksekutif menjalankan anggaran, dan bagaimana yudikatif melakukan penindakan dalam penyalahgunaan anggaran yang mulai dari tingkat penyidikan sampai dikeluarkan putusan oleh hakim dalam suatu persidangan, sehingga semua kinerja orang-orang yang ada dipemerintahan dapat terlihat oleh masyarakat sehingga tidak ada lagi lembaga yang dapat menyalah gunakan anggaran atau tindakan yang menyeleweng yang lainnya, karna setiap gerak gerik para orang-orang pemerintahan dikontrol oleh media. Walaupun ada penyelewengan mungkin akan sedikit tidak akan sebanyak seperti sekarang, namun semua itu kembali kepada media-media yang ada, apakah dapat menyajikan berita secara professional yang sebagaimana adanya tanpa dikurangi atau dilebihi yang bertujuan menggiring opini public (opini yang baik dan opini yang buruk) kepada seseorang yang diberitakan oleh media. Kembali lagi kepada masalah trias politica yang berubah menjadi trias koruptica semua itu terjadi karna hampir semua masyarakat tidak tahu detail-detail dari anggaran yang dianggarkan oleh badan legislatif dan eksekutif, yang orang tahu hanya anggaran tersebut sebesar sekiran rupiah tanpa tahu itu dianggarkan untuk digunakan apa saja, disini jelas karna orang tidak tahu detail-detailnya dapat terjadi penggelembungan harga dari detail-detail anggaran tersebut contohnya seperti yang seharusnya sekian rupiah menjadi puluhan rupiah, disinilah pentingnya pengawasan media dan lembaga legislatif dan eksekutif membukakan anggaran yang mereka undangkan diketahui public agar tidak menjadi lahan basah untuk korupsi, karna anggaran ini merupakan lahan yang sensitif. Mengingat terkadang korupsi itu bukan kejahatan yang selalu individual namun terkadang kejahatan korupsi dilakukan secara berjamaah (orang banyak), terkadang juga selalu suap sana suap sini untuk menutupi aksi korupsinya tersebut, dan kini lembaga yang digadangkan sebagai lembaga pengawas dan mengadili penyelewengan kekuasaan oleh lembaga lainnya yaitu lembaga yudikatifpun sudah terasuki oleh oknum-oknum yang korup, mudah disuap, sampai yang mengerikan dikatakan jual beli pasal, ini alangkah mirisnya lembaga-lembaga agung Negara yang seharusnya saling mengawasi malah saling bahu membahu melakukan kejahatan tindak pidana korupsi. Yang seharusnya trias politica ini menjadi system yang baik untuk masyarakat malah berubah menjadi system yang mengecewakan masyarakat, karena oknum-oknum yang menyelewengkan system trias politica menjadi trias koruptica karna bukan saling mengawasi, tetapi saling ikut serta dalam korupsi.

Bersenang-Senanglah

Bersenang-senanglah di luar sana,
Jangan pernah takut terjatuh,
Ada aku yang kan menopang mu,
Karena aku tak sudi tanah menyentuh tubuh mu.

Bersenang-senanglah diluar sana,
Jika kau dikecewakan dunia,
Maka menolehlah,
Karena aku tak pernah meninggalkan mu sendiri,

Bersenang-senanglah diluar sana,
Jika kelak kau menemukan tempat dimana kau nyaman dan merasa dimanusiakan,
Maka menetap dan jangan pernah berusaha tuk pergi,
Ataupun menyia-nyiakan.

Dan ketika ku lihat kau damai disana,
maka disaat itulah aku untuk pergi.

Belajar Dari Teko

Pagi ini aku tiba-tiba mendapat pelajaran yang amat sangat berharga, pelajaran yang ku dapat bukan dari manusia atau makhluk hidup lainnya, bukan pula pelajaran yang kudapat dari sekolah atau tempat kursus, melainkan dari sebuah benda mati, yaitu teko atau tempat penyimpanan air.

Seperti biasa ketika bangun dipagi hari, aku selalu minum air putih terlebih dahulu sebelum aku ke air untuk wudhu, dan setelah cukup siang aku selalu memasak air untuk menyeduh kopi yang biasa menemani ku bersama buku-buku ku dipagi hari.

Saat aku melihat air yang ku tuangkan ke gelas, tiba-tiba saja aku berfikir kalau teko itu diisi air bening tanpa dicampur dengan teh dan yang lainnya maka dapat dipastikan warna air yang berada diteko itu tetap bening ketika dituangkan kedalam gelas. Tapi kalau dicampur teh atau dicampur dengan yang lainnya pastikan air yang diteko itu bakal berubah warna mengikuti apa yang dicampurkan.

Lalu aku coba interpretasikan teori tadi terhadap manusia, kalau manusia selalu berucap baik maka dapat kemungkinan besar hatinya pun baik, kalau yang diucapkan buruk maka kemungkinan besar hatinya pun buruk. Disamakan dengan teori teko yang tadi, kalau teko diisi air bening tanpa campuran maka pasti airnya tetap bening, kalau air bening yang dimasukkan ke dalam teko dicampur dengan yang lain maka warna air dalam diteko tadi akan ikut berubah. (kesampingkan teori kemunafikan, dalam teori ini kita anggap saja semua orang itu tak ada yang munafik atau bermuka dua).

Kalau kalian bertanya apakah aku adalah orang baik? Maka aku akan menjawab dengan tegas bahwa aku adalah orang baik, tapi kalau disandingkan dengan teori teko tadi, maka aku masih belum tergolong orang yang baik.

Terimakasih teko atas pelajarannya yang amat sangat berharga dipagi ini, dan aku akan berusaha menjadi orang baik walau sulit, tapi bukan berarti itu tak mungkin.

Empat Lilin

Ada empat lilin yang menyala, namun sedikit demi sedikit habis meleleh karena dekapan api.

Suasana begitu sunyi, hingga terdengar percakapan diantara lilin tersebut.

Lilin pertama berkata, “aku adalah damai, namun manusia tak mampu menjaga ku. maka lebih baik akun mematika diri ku saja.” sedikit demi sedikit lilin pertamapun mulai meredup cahayanya lalu sang api pun padam dengan sendirinya.

Lilin ke dua berkata, “aku adalah iman, namun sayang aku tak berguna lagi. manusia tak mau mengenal ku, makia tak ada gunanya aku tetap menyala.” Saat sang lilin selesai berbicara, tiupan angin pun memadamkannya.

Dengan sedih lilin ke tiga berbicara, “aku adalah cinta, tak mampu lagi aku untuk tetap menyala. manusia tak memandang dan menganggap ku berguna. mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.” tanpa menunggu waktu yang lama, lilin  ketiga pun mati dengan sendirinya.

Namun tanpa diduga, tiba-tiba seorang anak masuk kedalam kamar, dan melihat empat lilin dengan tigam lilin padam dan hanya tinggal satu lilin yang menyala, karena takut akan gelap, sang anak pun berkata, “apa yang terjadi? kalian harusnya tetap menyala, karena aku takut akan kegelapan.” sang anak pun menangis tersedu-sedu.

Dengan merasa terharu lilin ke empat berkata, “jangan takut, jangan menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga lilin yang lainnya karena aku adalah harapan.”

Dengan mata yang bersinar, sang anak pun mengambil lilin ke empat (lilin harapan), lalu menyalakan kembali ketiga lilin yang telah padam.

Dengan Harapan kita mampu menghidupkan kedamaian,keimanan, dan kecintaan. maka selama harapan masih ada, jangan pernah takut untuk kehilangan.

Jadilah Manusia yang Sebenarnya

 
*Gambar saya copy dari : https://wahyukokkang.wordpress.com/2011/02/17/clekit-jawa-pos-17-februari-2011/

Akhir-akhir ini santer bergulir tentang wacana pembubaran salahsatu ormas. Sebenarnya ini bukanlah wacana baru, wacana ini sudah cukup lama tredengar gaungnya. Namun, baru muncul kepermukaan akhir-akhir ini. (mungkin semenjak terjadinya Aksi Bela Islam yang mampu mengumpulkan jutaan orang islam disatu titik untuk menuntut proses hukum masalah penistaan Agama).

Menurut saya pribadi. Masalah pembubaran suatu ormas bukanlah cara yang efektif untuk memusnahkan atau menghilangkan ormas-ormas yang dianggap selalu berbuat anarkis. Sebenarnya tidak fair juga jika hanya satu kesalahan ormas tersebut lalu dibubarkan, padahal disisilain ormas-ormas itu pun memiliki kegiatan yang baik terhadap masyarakat. Entah itu bakti sosial, atau penggalangan dana dan juga membantu ke daerah yang terkena musibah. Namun, sayangnya saja tak terekspos oleh media-media konvensional, sehingga menyebabkan tak banyak masyarakat mengetahuinya.

Suatu tindakan anarkis yang dilakukan oleh entah itu ormas atau organisasi apapun, saya yakin itu hanya dilakukan oleh oknum tidak oleh seluruh anggota ormas. Jika oknum-oknum tersebut yang kedapatan anarkis dan melanggar hukum tak pernah diadili atau dimejahijaukan, pembubaran ormas hanya akan menjadi sia-sia belaka. Karena ketika ormas itu sudah dibubarkan, akan muncul kembali namun dengan nama yang lain tapi personilnya masih tetap sama. Jadi sama saja bohong.

Pembubaran ormas itu berbeda dengan pembubaran atau pelarangan ideologi. Kita mengetahui dibangsa ini ada suatu ideologi yang dilarang, yangmana sudah diatur dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Nomor 25 Tahun 1966 (TAP MPRS No. 25 Tahun 1966). Pelarangan tersebut bukan tanpa sebab. Pelarangan tersebut terjadi karena adanya suatu tragedi berdarah yang begitu sadis menorehkan luka bagi bangsa  ini.

Pasti diantara kalian akan berkata “ini jaman kebebasan, pelarangan ideologi semacam itu bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM).” Jika memang kalian berpikir demikian, alangkah sempitnya sudut pandang kalian. Coba lihat ke Eropa, disana ada suatu paham yang begitu mengerikan bagi mereka, dan menjadi pencetus Perang Dunia ke-II.

Kenapa saya jadikan Eropa sebagai patokan? Karena dari sebagian banyak manusia masih beranggapan bahwa di barat sana adalah penjunjung HAM yang sebenarnya, toleransinya begitu tinggi, dan lain sebagainya, tapi faktanya silahkan baca-baca berita saja, lebih maju mana toleransi di Barat dengan di Indonesia jika dibandingkan antara mayoritas dan minoritas.

Selain masalah pembubaran ormas-ormas anarkis, saya pun heran saat melihat berita-berita yang bertebaran dimedia sosial tentang bendera Dwi Warna Indonesia (Merah Putih) yang pada aksi kemarin-kemarin ini terdapat tulisan arab serta dibawah tulisan arab tersebut terdapat gambar pedang yang digoreskan dengan tulisan berwarna hitam.

Kalo ga salah waktu Metallica konser di Indonesia ada bendera Dwi Warna Indonesia yang ditulisi lambang khas Metallica serta dibawahnya tertulis Solo-Indonesia, dan bendera itu sempat berfoto dengan para punggawa Metallica. Tapi, pada saaat itu orang-orang (mungkin lebih tepatnya Buzzer) terlihat sangat bangga ketika Dwi Warna Indonesia dibegitukan.

Selain itu saya pun sempat melihat video di beberapa akun instagram yang membunculkan gambar sekelompok orang yang merobek bendera Dwi Warna Indonesia, lalu membakarnya. Nah bagi saya pribadi, ini lebih pas dikata penghinaan. Namun, tampaknya tak membuat orang-orang meributkannya dengan ramai, hingga tak terdengar gaung tentang pengusutan penghinaan Bendera Dwi Warna Indonesia tersebut.

Dan kini yang membuat kedua kasus itu menyeruak kembali dibeberapa jejaring sosial. Karena terdapat bendera Dwi Warna Indonesia dibawa saat aksi yang menuntut pencopotan Kapolda beberapa daerah. Membuat orang-orang geram. Padahal saya rasa sih ga ada bedanya itu dengan “tragedy” bendera Dwi Warna di konser Metallica, tapi saat konser Metallica orang-orang terlihat bangga, tidak mempermasalahkan, dan tak ada yang “kebakaran jenggot”.

Kenapa bisa sampai seheboh ini? Ada apakah ini sebenarnya? Kekonyolan macam apa ini? Diskriminasikah? Jika kasus bendera Dwi Warna aksi kemarin dijerat hukum lalu Dwi Warna dikonser Metallica tidak, apakah ini yang namanya keadilan? Apakah ini yang namanya semua sama dimata Hukum?

Jika kalian memiliki nurani, tanyakan pada diri kalian sendiri, “apakah kedua kasus diatas tidakkah konyol adanya? apa kedua kasus diatas jika terus diramaikan takkan membuat perpecahan bangsa ini?” tak perlu menyalahkan kelompok manapun, mulai lah berpikir sebagai manusia yang berakal, bukan seperti kerbai yang di cocoki hidungnya.

Jadilah manusia yang sebenarnya, jangan hanya jadi seonggok daging yang hanya membungkus tulang-belulang. Kalian diciptakan memiliki akal, kritislah terhadap apa yang kalian lihat, kalian dengar, dan kalian baca, janganlah menjadi loyalis buta.

Sedikit Solusi untuk Kemacetan Kota Besar

Kemacetan dan Kota besar sepertinya sudah menjadi sahabat sejati buat kota-kota besar di Negara ini, (Setuju?). Tadi pagi saya sempet denger di salahsatu Stasiun TV Swasta yang memberitakan kalo dikota Bandung setiap hari jum’at dicanangkan menjadi “Jum’at ngankot” atau biar keren dikit sebut saja #AngkotDay, saya rasa tujuan dari pencanangan “jum’at ngangkot” ini agar masyarakat umum memparkir kendaraan pribadinya dirumah khusus untuk hari jum’at saja, jika memang mereka tidak sanggup benar-benar sepenuhnya berpindah ke angkutan umum (kurang lebih sih itu tujuannya menurut persepsi saya).

Dan menurut penilaian saya semua orang di kota-kota besar sebenarnya muak dengan kemacetan yang ada dikotanya, namun mereka pun tak pernah mau untuk berpindah ke angkutan umum karena beberapa faktor. Sampai akhirnya masalah kemacetan ini “dijual” dalam setiap kampanye calon-calon kepala daerah. Namun nyatanya masalah kemacetan itu benar-benar hilang dari kota besar saya rasa ga sertamerta hilang, malah mungkin semakin macet saja jalanan disetiap kota besar terutama dijalan-jalan protokol.

Namun bukan berarti tidak hilangnya kemacetan dikota besar itu pertanda bahwa pemerintah daerah tidak berusaha melerai kemacetan didaerahnya, saya yakin setiap pemerintah daerah pasti berpikir keras dan berusaha semaksimal mungkin untuk menghilangkan kemacetan dikotanya. Tapi apa mau dikata, saya rasa hampir semuanya tak capai tujuan.

Perlu kita akui, bahwa melerai kemacetan bukan hanya kewajiban pemerintah saja. Menurut saya dari 100% kewajiban melerai kemacetan itu 30% menjadi tanggung jawab pemerintah dan 70% menjadi tanggung jawab masyarakat, namun 30% kewajiban yang ada ditangan pemerintah itu sangat stategis dalam pembebasan kota-kota besar dari kemacetan. Pasti ada dari kalian mempertanyakan kenapa saya berani berkata demikian? ini hanya menurut logika saya saja, pemerintah hanya sebatas mengatur regulasi, menghimbau dan sebisa mungkin mengeksekusi regulasi yang sudah dibuatnya, jika regulasi sudah dibuat sebaik mungkin namun masyarakat yang seharusnya melaksanakan regulasi tersebut malah mengabaikannya, itu sama saja percuma, jika ditindak terlalu keras ini hanya sebatas pelanggaran bukan kejahatan, namun jika ditindak terlalu lembek tujuan takkan pernah tercapai, dilematis? ya memang, namun apapun yang telah dijadikan aturan secara tertulis selama itu logis dan memiliki alasan dasar yang kuat, seberat apapun hukuman atas pelanggaran itu harus ditegakkan.

Sulitnya disini, jika aturan dibuat amat sangat tegas, semua pasti berlindung dibalik HAM tanpa berpikir masalah yang lainnya yang menjadi dasar aturan itu dijatuhkan, kadang saya heran dengan HAM, orang-orang selalu saja menuntut HAM nya ditegakkan, namun mereka lupa bahwa setiap Hak selalu melekat dengan Kewajiban (sewaktu saya SD sih diajarinnya gitu). Jika semua aturan dibenturkan dengan analogi perlindungan HAM yang kebablasan, lama-lama negara ini takkan punya lagi aturan, atau minimal aturan hanya dijadikan sebatas pajangan.

Namun bukan berarti pemerintah sebagai pembuat regulasi bisa sebebasnya membuat regulasi atau himbauan yang menurut saya itu tidak sampai tuntas, mengapa demikian? oke satu contoh perihal jum’at ngangkot (#AngkotDay) atau apalah penyebutannya saya yakin disetiap daerah yang pasti berbeda namun tujuannya sama yaitu menghimbau agar masyarakat memarkir kendaraan dirumahnya saja dan berpindah ke angkutan kota/umum.

Ini menurut logika saya yang simple mengapa saya lebih memilih motor ketimbang beralih keangkutan umum (kalau itu tidak terpakasa), saya sebagai seorang yang kadang menggunakan angkutan umum dan terkadang menggunakan motor, mengapa memilih menggunakan motor :

  1. Irit didompet dengan uang Rp. 10.000,- saya bisa kebeberapa tempat hingga akhirnya kembali lagi ke rumah dan itupun bensin masih bersisa. Sedangkan jika menggunakan angkutan umum anggap sekali turun dari angkutan umum itu Rp.3.000 (asumsi paling murah dengan jarak yang tidak begitu jauh) jika saya naik turun angkutan umum 4x sudah keluar Rp. 12.000,- belum lagi ongkos pulang ke rumah anggap saja Rp.6.000,- dan total uang saya yang keluar menjadi Rp. 18.000,- dan jika hanya naik motor hanya keluar uang Rp. 10.000,- untung Rp. 8.000,- dong kalo saya naik motor. Saya yakin kalian pun pasti satu pemilihan dengan saya, jadi harapan saya sih kalo bisa ongkos angkutan umum dalam kota itu bisa sekali bayar tapi bisa jalan satu hari full, sepertinya kalo demikian sebagian banyak bisa pindah ke angkutan umum. Dan supir angktan kota mungkin lebih baiknya di bayar perkilometernya oleh pemerintah yang menjadi pengakomodir ongkos tersebut, yang nantinya akan menjadi bayaran juga buat sang supir angkot (hanya logika saja, saya yakin praktiknya tak semudah itu karena butuh deal-deal yang kuat, namun jika pemerintah itu mampu merangkul warganya hingga warganya mencintai pemimpinnya saya yakin rakyat itu akan tunduk dan patuh kepada pemimpinnya).
  2. Motor anti macet dan anti ngetem, bisa lebih cepat sampai tujuan, tapi dilematis juga sih sebenernya para supir angkot sering ngetem itu pasti karena mereka sedang mengejar setoran, berharap dengan ngetem disuatu tempat akan banyak penumpang yang naik, namun disatu sisi kita yang sudah memiliki jadwal mau tak mau harus sesegera mungkin sampai ditempat, karena jika lama di jalan itu membosankan apalagi lama karena macet dan lebih greget lagi jika lamanya karena ngetem pasti udah pingin teriak-teriak ketelinga supir angkotnya “woi maju, gue udah telat nih!!!” (tapi saya yakin teriakan itu hanya akan kalian lakukan dihati saja dan lebih memilih berekspresi cemas atau kesal karen kalo teriak ga berani sama supir angkotnya hahaha). nah untuk masalah ini saya rasa sudah terjawab di poin 1, bahwa supir angkutan umum baiknya dibayar perkilometer, iar ga ada lagi supir-supir yang ugal-ugalan, saling rebut penumpang, bahkan sampai yang “ngalong” (narik angkot sampai subuh).
  3. Angkutan umum yang kurang nyaman, tapi kalo menurut logika saya, kalau poin 1 dan 2 itu terpenuhi, dan seengganya ga jelek-jelek amatlah angkutannya pasti pada tetep naik angkutan umum ko.
  4. Terakhir perihal biaya parkir, kalo syarat poin 1-3 itu bisa terpenuhi saya dukung peninggian biaya parkir, kalo perlu Rp. 10.000,- atau Rp. 20.000,- /jam, biar bener-bener pada hijrah tuh orang-orang ke angkutan umum, karena saya rasa seperti di kota Bandung masalah gembok mobil dan angkut motor bagi kendaraan yang parkir sembarangan itu ga begitu maksimal, karena banyaknya kendaraan yang parkir liar jadi mungkin memusingkan bagi yang menindaknya, tapi kalo sedikit yang parkir liar kan penerapan sanksi gembok dan angkut kendaraan jadi mudah hehehe… (logika simple saya).

Beberapa poin di atas hanya menurut asumsi dan logika saya yang simple saja, saya yakin praktiknya tak semudah itu, namun perlu di ingat sulit bukan berarti tak mungkin, kita hanya perlu usaha lebih ekstra untuk mewujudkan yang tidak mungkin. pemerintah hanya perlu berusaha merebut hati rakyat, yang nantinya akan membuat rakyat patuh dan tunduk, namun ketika rakyat itu tunduk dan patuh jangan sekali-sekali pemerintah menjadi seorang diktator karena ini sudah bukan jaman Machiavelli lagi.

Semoga jika tulisan ini ada benarnya bisa diambil yang benarnya, jika ada yang salah ya mohon dimaafkan karena pemikiran saya se-simple ini hehehe…