Bandung 17 Mei 2015

Hari ini aku memiliki sedikit rejeki, dan akupun memanfaatkannya untuk membeli buku, kalau dulu sih sudah pasti mau berapa banyak uang ku takkan sepeserpun aku sudi belikan buku (hahaha bodohnya), semenjak aku berhenti bercengkrama dengan asap dan tembakau, alhasil aku lebih hemat uang dan akupun memutuskan untuk investasikan uang ku kedalam bentuk yang bermanfaat, yaitu buku. Karena aku berfikir jikalau suatu saat aku tak kaya akan harta, setidaknya aku bisa mewariskan ilmu-ilmu yang bermanfaat kepada mereka yang akan menjadi penerus ku berpijak di bumi.
Saking ngebetnya dengan buku berjudul Mein Kampf karya Adolf Hitler akupun sempatkan hari ini untuk cuci mata ke toko buku yang ada di kota ku, aku berkunjung ke tiga toko buku yang cukup sering aku kunjungi, hanya nuntuk mencari “kitab suci” penganut NAZI dimasa dahulu kala. Namun sayang aku tak mendapatkan buku tersebut diketiga toko buku tadi.
Tapi alangkah kagetnya aku ketika memasuki ketiga toko buku tersebut, dengan mundah kita akan mendapatkan buku-buku tentang pemikir-pemikir paham kiri, setahu aku dengan dikeluarkannya TAP MPRS XXV/1966 yang mengatur tentang larangan paham kiri berkembang di indonesia, seharusnya apapun yang berbau kiri semestinya tidak boleh beredar di indonesia, ini bukan karena rasis atau melanggar demokrasi dengan asas penopangnya yaitu kebebasan berekspresi, ingat kita memiliki konstitusi, dalam konstitusi kita dikatakan kita negara hukum sesuai pasal 1 ayat (3) UUD 1945, lalu berdasarkan Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 TAP MPR termasuk kedalam hierarki perundang-undangan kembali. Jadi seharusnya apapun yang berbau perihal ke-kirian seharusnya tidak beredar di Indonesia.
Setelah berkeliling tiga toko buku tersebut akupun akhirnya membeli novel yang berjudul the alchemis karya paul Coelho (katanya sih buku ini bagus banget) dan Hitler bangkit lagi (ini aku belum tahu bagus engganya, tapi aku liat novelnya best seller dan terjual lebih dari satu juta kopi) dan buku seorang tokoh besar bernama Pramoedya Ananta Toer (katanya sih beliau ini berhaluan kiri, tapi perlu diakui beliau memang penulis besar yang pernah dimiliki Indonesia).
Sebenarnya banyak sekali buku yang ingin ku bawa pulang, mulai dari buku yang aku impikan karya seorang Plato berjudul Republik, lalu strategi perang yang diriwayatkan oleh Machiavelli, sampai buku Kahlil Gibran ingin sekali aku ajak pulang, namun sayang saku ku terbatas karena saat ini aku lebih ingin mengkebumikan “kitab suci” penganut NAZI dibanding yang lainnya, mungkin lain hari mereka akan aku ajak menetap dirumah orang tua ku, dan meramaikan rak buku ku.

Mungkin terasa seperti menjilat ludah sendiri ketika aku membeli buku yang dikonotasikan berhaluan kiri, namun kembali lagi kepada pemikiran ku, bahwa aku adalah seorang alumni mahasiswa Hukum Tata Negara yang harus mengetahui semua ideologi, aku mengetahui Demokrasi dari filusuf Yunani kuno mulai dari Socrates, Plato dan Aristoteles, lalu aku mengetahui ketegasan walau orang kata terlalu menjurus kepada kekasaran dari Machiavelli, aku mengetahui Komunisme dari Karl Marx, aku mengetahui Nasionalisme dari seorang Hitler.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s