Hukum Mati Koruptor

Kita sepakat apabila korupsi merupakan musuh terbesar kita semua, khususnya di Indonesia. Mengapa saat 1998 terjadi reformasi ? salahsatunya karna menilai pemerintah pada masa itu korup, maka dari itu muncullah keinginan untuk reformasi dan mengharap akan ada pemerintahan yang bersih, namun faktanya kini korupsi malah merasuk kedalam instatnsi terendah sekalipun dalam struktur bernegara, dan salah satu harapan ketika reformasi melenceng amat jauh, berharap korupsi musnah malah semakin besar.

Sebenarnya menurut saya korupsi itu bemula dari awal cara bagaimana kita menjadi seorang aparatur Negara, apa melalui tes, atau “deal-deal” tertentu, namun sebenarnya apabila melalui tes yang jujur kemungkinan untuk melakukan korupsi tidak terlalu besar, namun itu tidak dapat dijadikan seorang yang menjadi aparatur Negara melalui tes itu tidak akan melakukan korupsi, namun yang kemungkinan besar melakukan korupsi adalah orang-orang yang melakukan “deal-deal” saat melalui suatu proses untuk menjadi aparatur Negara.

Kenapa saya menilai seperti itu ? hanya karna mereka mengeluarkan modal untuk melakukan “deal-deal” tersebut, tidak mungkin sekarang mereka menggelontorkan modal yang besar dengan Cuma-Cuma tanpa ada pertimbangan untuk “balik modal”. Ini hanya contoh kecil dari aparatur Negara ecek-ecek.

Namun ketika dilihat mengapa para pejabat yang dikatakan anggota legislative, eksekutif, dan sekarang yudikatifpun ikut serta ambil bagian dalam pemilu ? kemungkinan besar jika para anggota legislative mereka melakukan korupsi hanya dari awal mereka mengeluarkan “modal” untuk mencalonkan diri, kampanye, dan membeli suara dengan membagikan uang kurang lebih 50.000 kepada warga dengan harapan masyarakat memilih mereka. Alangkah mirisnya suara kita digadaikan 50 ribu untuk 5 tahun.

Sebenarnya tidak salah juga mereka membagikan uang, asalkan uang tersebut ikhlas untuk dibagikan tanpa “hipnotis” tertentu, masyarakat yang menerima uang tersebut juga tidak dapat disalahkan, karna itu dikatakan rezeki masa mau ditolak. Pemerintah memang telah melakukan kampanye dengan kata “ambil uangnya jangan pilih orangnya” namun saya rasa itu tidak efektif. Semua itu akan efektif apabila masyarakat berfikir dengan kesadaran sendiri, namun sayangnya pemikiran “sekarang saja sudah mebagi-bagikan uang, apalagi nanti kalau terpilih” terkadang itu yang menjadi doktrin orang-orang dan akhirnya terhasut, dan ini amat disayangkan. Padahal kemungkinan karna modal besar, ketika terpilih hanya 1 yang ada difikiran mereka, bagaimana cara membalikkan modal kampanye tersebut, maka dari itulah sebagaimana caranyapun ditempuh walaupun dengan cara korupsi.

Jika saja semua orang yang berkampanye dengan duit hanya diambil habis duitnya lalu tak dipilih orangnya, maka kemungkinan untuk korupsi itu sedikit, namun sayangnya stigma “modal” kampanye sepertinya sulit untuk dihilangkan, semuanya tergantung rakyat, jika rakyat muak dengan korupsi maka jangan pilih orang-orang yang menggelontorkan uangnya disaat kampanye, dan seharusnya mereka yang ikut serta dalam kampanye-kampanye saling menginformasikan apabila ada calon yang “bermodal” ketika kampanye, agar korupsi dapat ditekan, walaupun sulit untuk dihilangkan.

Jika kalian muak dengan koruptor, jangan ikut serta menjerumuskan mereka kedalam praktik yang kita benci, biarkan mereka korup karena keserakahan mereka. Saya berpendapat koruptor adalah penghianat Negara, dan sewajarnya dihukum mati ! namun sayang selalu dikaitkan dengan pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) padahal para koruptor merupakan pelanggar HAM semacam genosida walaupun tidak mematikan banyak orang namun merugikan banyak orang, maka dari itu sewajarnya diancam dengan hukuman mati !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s