Jadilah Manusia yang Sebenarnya

 
*Gambar saya copy dari : https://wahyukokkang.wordpress.com/2011/02/17/clekit-jawa-pos-17-februari-2011/

Akhir-akhir ini santer bergulir tentang wacana pembubaran salahsatu ormas. Sebenarnya ini bukanlah wacana baru, wacana ini sudah cukup lama tredengar gaungnya. Namun, baru muncul kepermukaan akhir-akhir ini. (mungkin semenjak terjadinya Aksi Bela Islam yang mampu mengumpulkan jutaan orang islam disatu titik untuk menuntut proses hukum masalah penistaan Agama).

Menurut saya pribadi. Masalah pembubaran suatu ormas bukanlah cara yang efektif untuk memusnahkan atau menghilangkan ormas-ormas yang dianggap selalu berbuat anarkis. Sebenarnya tidak fair juga jika hanya satu kesalahan ormas tersebut lalu dibubarkan, padahal disisilain ormas-ormas itu pun memiliki kegiatan yang baik terhadap masyarakat. Entah itu bakti sosial, atau penggalangan dana dan juga membantu ke daerah yang terkena musibah. Namun, sayangnya saja tak terekspos oleh media-media konvensional, sehingga menyebabkan tak banyak masyarakat mengetahuinya.

Suatu tindakan anarkis yang dilakukan oleh entah itu ormas atau organisasi apapun, saya yakin itu hanya dilakukan oleh oknum tidak oleh seluruh anggota ormas. Jika oknum-oknum tersebut yang kedapatan anarkis dan melanggar hukum tak pernah diadili atau dimejahijaukan, pembubaran ormas hanya akan menjadi sia-sia belaka. Karena ketika ormas itu sudah dibubarkan, akan muncul kembali namun dengan nama yang lain tapi personilnya masih tetap sama. Jadi sama saja bohong.

Pembubaran ormas itu berbeda dengan pembubaran atau pelarangan ideologi. Kita mengetahui dibangsa ini ada suatu ideologi yang dilarang, yangmana sudah diatur dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Nomor 25 Tahun 1966 (TAP MPRS No. 25 Tahun 1966). Pelarangan tersebut bukan tanpa sebab. Pelarangan tersebut terjadi karena adanya suatu tragedi berdarah yang begitu sadis menorehkan luka bagi bangsa  ini.

Pasti diantara kalian akan berkata “ini jaman kebebasan, pelarangan ideologi semacam itu bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM).” Jika memang kalian berpikir demikian, alangkah sempitnya sudut pandang kalian. Coba lihat ke Eropa, disana ada suatu paham yang begitu mengerikan bagi mereka, dan menjadi pencetus Perang Dunia ke-II.

Kenapa saya jadikan Eropa sebagai patokan? Karena dari sebagian banyak manusia masih beranggapan bahwa di barat sana adalah penjunjung HAM yang sebenarnya, toleransinya begitu tinggi, dan lain sebagainya, tapi faktanya silahkan baca-baca berita saja, lebih maju mana toleransi di Barat dengan di Indonesia jika dibandingkan antara mayoritas dan minoritas.

Selain masalah pembubaran ormas-ormas anarkis, saya pun heran saat melihat berita-berita yang bertebaran dimedia sosial tentang bendera Dwi Warna Indonesia (Merah Putih) yang pada aksi kemarin-kemarin ini terdapat tulisan arab serta dibawah tulisan arab tersebut terdapat gambar pedang yang digoreskan dengan tulisan berwarna hitam.

Kalo ga salah waktu Metallica konser di Indonesia ada bendera Dwi Warna Indonesia yang ditulisi lambang khas Metallica serta dibawahnya tertulis Solo-Indonesia, dan bendera itu sempat berfoto dengan para punggawa Metallica. Tapi, pada saaat itu orang-orang (mungkin lebih tepatnya Buzzer) terlihat sangat bangga ketika Dwi Warna Indonesia dibegitukan.

Selain itu saya pun sempat melihat video di beberapa akun instagram yang membunculkan gambar sekelompok orang yang merobek bendera Dwi Warna Indonesia, lalu membakarnya. Nah bagi saya pribadi, ini lebih pas dikata penghinaan. Namun, tampaknya tak membuat orang-orang meributkannya dengan ramai, hingga tak terdengar gaung tentang pengusutan penghinaan Bendera Dwi Warna Indonesia tersebut.

Dan kini yang membuat kedua kasus itu menyeruak kembali dibeberapa jejaring sosial. Karena terdapat bendera Dwi Warna Indonesia dibawa saat aksi yang menuntut pencopotan Kapolda beberapa daerah. Membuat orang-orang geram. Padahal saya rasa sih ga ada bedanya itu dengan “tragedy” bendera Dwi Warna di konser Metallica, tapi saat konser Metallica orang-orang terlihat bangga, tidak mempermasalahkan, dan tak ada yang “kebakaran jenggot”.

Kenapa bisa sampai seheboh ini? Ada apakah ini sebenarnya? Kekonyolan macam apa ini? Diskriminasikah? Jika kasus bendera Dwi Warna aksi kemarin dijerat hukum lalu Dwi Warna dikonser Metallica tidak, apakah ini yang namanya keadilan? Apakah ini yang namanya semua sama dimata Hukum?

Jika kalian memiliki nurani, tanyakan pada diri kalian sendiri, “apakah kedua kasus diatas tidakkah konyol adanya? apa kedua kasus diatas jika terus diramaikan takkan membuat perpecahan bangsa ini?” tak perlu menyalahkan kelompok manapun, mulai lah berpikir sebagai manusia yang berakal, bukan seperti kerbai yang di cocoki hidungnya.

Jadilah manusia yang sebenarnya, jangan hanya jadi seonggok daging yang hanya membungkus tulang-belulang. Kalian diciptakan memiliki akal, kritislah terhadap apa yang kalian lihat, kalian dengar, dan kalian baca, janganlah menjadi loyalis buta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s