Bersenang-Senanglah

Bersenang-senanglah di luar sana,
Jangan pernah takut terjatuh,
Ada aku yang kan menopang mu,
Karena aku tak sudi tanah menyentuh tubuh mu.

Bersenang-senanglah diluar sana,
Jika kau dikecewakan dunia,
Maka menolehlah,
Karena aku tak pernah meninggalkan mu sendiri,

Bersenang-senanglah diluar sana,
Jika kelak kau menemukan tempat dimana kau nyaman dan merasa dimanusiakan,
Maka menetap dan jangan pernah berusaha tuk pergi,
Ataupun menyia-nyiakan.

Dan ketika ku lihat kau damai disana,
maka disaat itulah aku untuk pergi.

Tidak Ada New York Hari Ini

Tidak ada New York hari ini,
Tidak ada New York kemarin,
Aku sendiri dan tidak berada disini,
Semua orang adalah orang lain,

Bahasa ibu adalah kamar tidurku,

Kupeluk tubuh sendiri,

Dan cinta -kau tak ingin aku mematikan mata lampu.

Jendela terbuka dan masa lampau memasukiku sebagai angin,

Meriang. Meriang. Aku meriang,

Kau yang panas dikening.

Kau yang dingin dikenang.

Hari ini tidak pernah ada.
Kemarin tidak nyata.
Aku sendiri dan tidak menulis puisi ini.
Semua kata tubuh mati semata.

Puisi adalah museum yang lengang.

Masa remaja dan negeri jauh. Jatuh dan patah. Foto-foto hitam putih.

Aroma kemeja ayah dan senyum perempuan yang tidak membiarkanku merindukan senyum lain.

Tidak ada pengunjung. Tidak ada pengunjung.

Dibalik jendela, langit sedang mendung.

Tidak ada puisi hari ini.

Tidak ada puisi kemarin.

Aku menghapus seluruh kata,

Sebelum sempat ku menuliskannya.

(Karya : M. Aan Mansyur)