Jejak Langkah (Tetralogi Pulau Buru)

Judul       : Jejak Langkah

Penulis   : Pramoedya Ananta Toer

Halaman : 724

Penerbit  : Lentera Dipantara

Cetakan  : 9, Februari 2012

ISBN        : 979-97312-5-9

 

Jejak langkah adalah buku ke-3 dari 4 seri tetralogy pulau buru karya Pramoedya Ananta Toer, dalam kisah yang berjudul Jejak Langkah ini, masih dengan tokoh utama yang sama yaitu, Minke. Dalam kisah ini Minke sudah berpindah dari Surabaya ke Batavia (Jakarta, pada saat ini), dia mendapat beasiswa untuk meneruskan pendidikan disekolah kedokteran yang bernama S.T.O.V.I.A yang diperuntukan untuk Pribumi, dan mulai dari situlah Minke mulai berkenalan dengan petinggi Hindia, bahkan Minke sampai bersahabat dengan Gubernur Jendral Hindia pada saat itu. Namun semua terjadi bukan bergitusaja, namun karena semua petinggi Hidia pada saat itu merasa kagum dengan tulisan-tulisan minke, dan tak percaya bahwa tulisan itu ditulis oleh seorang pribumi.

Dalam kisah ini tak melulu tentang pergerakan Minke dalam memanjukan bangsa yang dicintainya, namun terselip juga kisah cinta Minke dengan seorang aktivis dari negeri China (Sekarang Tionghoa) bernama Ang San Mei, dan juga seorang Prinses Van Kasiruta, putri seorang raja Maluku.

Namun Minke tidak dapat menuntaskan pendidikan Kedokterannya di S.T.O.V.I.A karena dia dipecat, dan diwajibkan mengembalikan seluruh beasiswa yang telah diberikan Gubermen, yang amat sangat besar, sehingga direktur kampusnya sendiri pun tak yakin Minke akan sanggup membayarnya, namun ternyata Minke menyanggupi besaran biaya yang harus dia kembalikan.

Setelah dikeluarkan dari S.T.O.V.I.A Minke kembali menekuni dunia lamanya, yaitu Jurnalistik, dan sampai akhirnya dia mendirikan sebuah organisasi dengan nama Syarikat Priyayi, dan ini merupakan awal mula lahir dan terbitnya Koran mingguan Medan Priyayi, dan mendapat perhatian dari masyarakat. Namun organisasi yang digagas oleh Minke tak mampu bertahan karena banyak anggota yang vakum, namun Minke berhasil menyelamatkan Medan Priyayi sehingga mampu tetap eksis memberikan pencerahan kepada masyarakat.

Belajar dari pengalamannya Minke memikirkan tentang hal apa yang mampu menyatukan suatu organisasi, hingga akhirnya Minke menyadari bahwa perdagangan mempu menjadi alat pemersatu, maka didirikanlah Syarikat Dagang Islam (S.D.I). tanpa diduga SDI berkembang dengan pesat, dengan berkembangnya SDI yang begitu pesat muncul gerombolan-gerombolan yang ingin merusak dan mengancam eksistentsi SDI, tak jarang gerombolan, gerombolan itu melakukan kekerasan, sehingga mendorong anggota S.D.I. belajar bela diri, yaitu pencak silat. Pencak silat mulai berkembang dan dipelajari oleh kaum pribumi untuk membela diri dari ancaman gerombolan pengacau tersebut.

Namun ancaman-ancaman yang diberikan oleh gerombolan-gerombolan tersebut tak berarti bagi SDI, dan SDI masih tetap eksis bahkan Medan dan SDI semakin berkembang. Akhirnya Minke mendelegasikan pekerjaannya kepada orang-orang yang diapercaya, dan dia berminat untuk menjadi seorang penyebar propaganda untuk memberikan penyadaran kepada teman sebangsa yang memiliki nasib serupa yaitu terjajah.

Namun kenyataan berkata lain, Minke gagal untuk menyebar propaganda karena Medan dipreteli dan kantornya disegel, karena dianggap menyebar berita yang menghina Gubernur Jendral. Rumah Minke didatangi oleh polisi dan Minke diberi surat penahanan atas “Hutang bangsa Tuan Minke, yang diatas namakan pribadi Tuan”. Kejadian ini sangat dramatis, hingga Minke dibawa, ia menyempatkan menuliskan sepucuk surat kepada istrinya melalui pembantu rumahtangganya. Dan Minke pun diasingkan dari Pulau Jawa.

Resensi Anak Semua Bangsa (Tetralogi Pulau Buru)

Judul       : Anak Semua Bangsa

Penulis   : Pramoedya Ananta Toer

Halaman : 536

Penerbit  : Lentera Dipantara

Cetakan  : 13, September 2011

ISBN        : 979-97312-4-0

 

Anak Semua Bangsa adalah buku kedua (kelanjutan dari karya sebelumnya Bumi Manusia) dari tetralogi pulau Buru, karya Pramoedya Ananta Toer (Pram). Beliu adalah sastrawan besar yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Buku ini sudah ada dalam pikiran Pramoedya Ananta Toer pada tahun 1973 ketika diasingkan di pulau Buru, sebelum akhirnya beliau tulis pada tahun 1975.

Buku ini menceritakan kejadian tahun 1898 sampai tahun 1918, pada saat itu adalah saat dimana munculnya pemikiran politik etis dan awal dari kebangkitan Nasional, dan menjadi awal tumbuhnya pemikiran untuk berorganisasi dibangsa ini.

Novel seri ke-dua ini menceritakan perjuangan Minke setelah sang istri, Annelis Mellema berlayar ke negeri ayahnya, Belanda. dalam seri pertama, Bumi Manusia, cerita lebih fokus pada masalah pribadi Minke dalam pencarian jati diri, maka di buku kedua ini, metamorfosis Minke begitu terasa, dan dalam buku ke dua ini digambarkan bagaimana penderitaan yang dialami oleh rakyat Jawa atas kekejaman penjajahan Belanda.

Dalam buku ini juga diceritakan pergerakan dari negeri lain, contohnya Cina dan Philipina, dan minke terinspirasi dari seorang aktivis Cina yang pergi dari negaranya untuk mengkampanyekan Nasionalisme, hingga akhirnya sang aktivis Cina ditetapkan jadi buronan yang membuat Minke kaget, dan akhirnya Nyai (ibunda Annelies) mengatakan bahwa itu adalah watak eropa, mereka licik, penipu, dan jahat, walaupun unggul dalam ilmu dan perekonomian, namun cacat moralnya, hukum dan pengadilan dibuat untuk kepentingan mereka bukan kepentingan pribumi, dan juga menceritakan penderitaan kaum tani yang selalu diteror untuk memberikan tanahnya kepada pabrik gula

Penderitaan rakyat semakin lengkap dengan sewenang-wenangnya para pejabat, baik Eropa maupun pribumi. Mereka merampas apa yang mereka mau dari rakyat; selain merampas kemerdekaan, mereka juga merampas tanah, harta, benda, dan bahkan anak serta istri pun dapat mereka rampas.

Anak Semua Bangsa merupakan periode observasi Minke untuk mencari spirit lapangan dan kehidupan arus bawah pribumi yang tak berdaya melawan kekuasaan dan kekuatan eropa.

beberapa kutipan yang saya suka dari ratusan kata-kata indah didalam novel ini:

“kalau hati dan pikiran manusia sudah tak mampu mencapai lagi, bukankah hanya pada Tuhanlah orang berseru”

“Berbicara dari orang ke orang yang jumlahnya banyak didunia ini tantu tak mungkin, maka dari itu aku menulis.”

“Karena kau menulis, suara mu takkan padam ditelan angina, akan abadi samapi jauh, jauh dikemudian hari.”

Romantis Anti-mainstream

Judul      : Dilan dia adalah Dilan ku tahun 1990.

Penulis   : Pidi Baiq

Penerbit : Mizan

Terbit     : 2014

Tebal      : 332 hlm

ISBN      : 978–602–7870–41–3

Novel ini dibuka oleh kata mutiara :

“Cinta itu indah, jika bagimu tidak, mungkin kamu salah milih pasangan”

Pidi Baik atau yang sering dipanggil Surayah

(Imam Besar The Panas Dalam).

Kisah ini menceritakan tentang seorang gadis remaja yang baru pindah dari jakarta ke kota Bandung, karena mengikuti orang tuanya yang dipindah tugaskan ke kota tersebut, gadis itu bernama Milea Adnan Hussain. Novel ini menceritakan tentang kisah cinta dari awal bertemu hingga Milea menjalin kasih dengan seorang laki-laki bernama Dilan.

Awal mula bertegursapa Dilan dengan Milea berbeda dengan kebanyakan orang yang langsung to the point mengajak kenalan, namun cara Dilan awal mula adalah berpura-pura bisa meramal, dan itu membuat Milea awalnya merasa aneh dengan sikap yang ditunjukkan Dilan. Hingga akhirnya kejutan-kejutan yang tak terduga ditunjukkan Dilan kepada Milea.

Hal-hal yang amat sangat sederhana yang dilakukan Dilan kepada Milea membuat Milea tersenyum dan tanpa disadari Milea mampu mengalihkan perhatian dan hatinya dari kekasihnya bernama Beni kepada Dilan.

dalam cerita ini dikatakan bahwa Dilan adalah seorang anak genk motor, namun dia memiliki otak yang begitu cerdas, namun kadang-kadang juga mampu bersikap begitu sangat konyol sehingga membuat saya sebagai pembaca tak habis pikir dengan sikapnya.

Kutipan-kutipan yang hebat dan konyol di buku ini begitu bertaburan, seperti :

“Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan.

Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli.”

“Milea, Kamu Cantik, Tapi aku belum mencintaimu.

Engga tahu kalau sore. Tunggu aja.”

Puisi Dilan untuk Milea :

“Milea 1”

Boleh aku punya pendapat?

Ini tentang dia yang ada di bumi

Ketika Tuhan menciptakan dirinya

Ku kira Dia ada maksud mau pamer

Dilan, Bandung 1990

“Milea 2”

Katakana sekarang

Kalau kue kau anggap apa dirimu?

Roti cokelat? Roti keju?

Martabak? Kroket? Bakwan?

Ayolah !

Aku ingin memesannya

Untuk mala mini

Aku mau kamu

Dilan, Bandung 1990

Wabah Adalah Cara Terbaik Mengatasi Overpopulasi

Judul : Inferno

Penulis : Dan Brown

Penerjemah : Ingrid Dwijani Nimpoeno dan Berliani Mantili Nugrahani

Penerbit : Bentang

Tahun Terbit : 2013

Tebal : 644 Halaman

ISBN : 978-602-7888-55-5

Tempat tergelap di neraka dicadangkan bagi mereka yang tetap bersikap netral disaat krisis moral. Dalam masa berbahaya (krisis) tidak ada dosa yang lebih besar daripada tetap diam.

Robert Langdon terbangun di rumah sakit dengan bekas jahitan dikepalanya, dan Langdon mengalami amnesia yang menyebabkan ingatannya selama duahari kebelakang tak mampu di ingatnya, sehingga dia tak sadar berada dikota mana, dan apa yang menyebabkan dia berada dirumah sakit dengan luka jahitan dikepala.

Saat dia masih terbaring dan dirawat oleh dokter dirumah sakit tersebut, tiba-tiba saja datang seseorang keruangan dimana Langdon dirawat sambil mengacungkan pistol dan mencoba membunuh sang professor simbolog itu.

Sebelum dia berhasil dibunuh, Langdon berhasil diselamatkan oleh seorang dokter wanita bernama Sienna Brook. Dalam pelariannya Sienna sempat menanyakan sebuah barang yang terselip dijaket tweed Langdon. Dan setelah mereka periksa ternyata barang tersebut adalah stempel kuno bergambar map of hell Botticelli yang memberikan sebuah petunjuk, dimana seluruh rangkaian kejadian ini berhubungan dengan salah satu mahakarya terhebat yang pernah diciptakan. Rangkaian puisi karya Dante Alighieri yang berjudul Inferno (neraka). Langdon merasa yakin bahwa barang itu yang menjadi alasan mengapa orang ingin membunuh dia,

Hingga akhirnya Langdon menemukan Topeng kematian yang disembunyikan oleh temannya setelah dicuri oleh dia dan temannya, ketika Langdon mendapatkan topeng yang disembunyikan itu, Langdon melihat sebuah tulisan dibalik topeng tersebut yang berbunyi :

Wahai kalian yang berotak gemilang, cermati ajaran yang tersembunyi disini.. dibalik selubung bait-bait yang begitu kabur. Carilah doge Venesia pengkhianat yang memenggal kepala kuda-kuda.. dan mencungkil tulang-tulang orang buta. Berlututlah didalam mouseion kebijakan suci bersepuh emas, dan letakkan telinga mu ditanah, dengarkan suara air menetes. Ikuti jauh kedalam istana tenggelam, karena disini, dalam kegelapan, monster chthonic menanti, tenggelam dalam air semerah darah.. di laguna yang tak memantulkan bintang-bintang.

Dan dari tulisan itu menjadi petunjuk bagi Langdon untuk memecah dan menyelamatkan dunia dari ancaman wabah untuk membatasi populasi manusia dimuka bumi.

Dan Brown selalu sukses ber-cocoklogi dalam setiap karyanya, namun dalam inferno ini kurang begitu membuat saya greget, tak seperti 3 novel petualangan terdahulunya, namun masalah yang diangkat di setiap novel Langdon memang selalu logis jika dinalarkan, dan masalah dalam novel ini adalah membludaknya populasi penduduk, dan dicerita ini Langdon berusaha menggagalkan seseorang yang berambisi untuk membatasi penduduk di bumi agar tidak terwujud overpopulasi yang akan menjadikan manusia musnah. Dan cara mengurangi populasi yang dilakukan oleh Bertrand Zobrist (pemeran antagonis di novel ini) sangat diluar dugaan saya, dan saya rasa itu fantastis.

Novel ini berlatar ditiga kota, Florence, Venesia, dan Istanbull. Dari ketiga kota tersebut Dan Brown mengajak kita berwisata ke tempat-tempat bersejarah dikota tersebut.

Seperti biasa juga Dan Brown selalu membuat novelnya dengan bab perbab yang sangat pendek, dan menggantung. Sehingga membuat penasaran ingin melanjutkan baca ke bab selanjutnya. Dalam novel Dan Brown kali ini sang penjahat sudah tertebak, namun kawan dan lawan langdonlah yang sulit ditebak, dan itu fantastis.

“Ketika semua tempat di dunia penuh sesak oleh  penghuni sehingga mereka tak bisa bertahan hidup di tempat mereka berada dan juga tidak bisa pindah ke tempat lain lagi, maka dunia akan membersihkan dirinya sendiri, dan wabah adalah cara alami dari dunia untuk membersihkan dirinya sendiri.” Niccolo Machavelli.

#pict by google : https://static01.nyt.com/images/2013/05/13/arts/book/book-blog427.jpg