Belajar Dari Teko

Pagi ini aku tiba-tiba mendapat pelajaran yang amat sangat berharga, pelajaran yang ku dapat bukan dari manusia atau makhluk hidup lainnya, bukan pula pelajaran yang kudapat dari sekolah atau tempat kursus, melainkan dari sebuah benda mati, yaitu teko atau tempat penyimpanan air.

Seperti biasa ketika bangun dipagi hari, aku selalu minum air putih terlebih dahulu sebelum aku ke air untuk wudhu, dan setelah cukup siang aku selalu memasak air untuk menyeduh kopi yang biasa menemani ku bersama buku-buku ku dipagi hari.

Saat aku melihat air yang ku tuangkan ke gelas, tiba-tiba saja aku berfikir kalau teko itu diisi air bening tanpa dicampur dengan teh dan yang lainnya maka dapat dipastikan warna air yang berada diteko itu tetap bening ketika dituangkan kedalam gelas. Tapi kalau dicampur teh atau dicampur dengan yang lainnya pastikan air yang diteko itu bakal berubah warna mengikuti apa yang dicampurkan.

Lalu aku coba interpretasikan teori tadi terhadap manusia, kalau manusia selalu berucap baik maka dapat kemungkinan besar hatinya pun baik, kalau yang diucapkan buruk maka kemungkinan besar hatinya pun buruk. Disamakan dengan teori teko yang tadi, kalau teko diisi air bening tanpa campuran maka pasti airnya tetap bening, kalau air bening yang dimasukkan ke dalam teko dicampur dengan yang lain maka warna air dalam diteko tadi akan ikut berubah. (kesampingkan teori kemunafikan, dalam teori ini kita anggap saja semua orang itu tak ada yang munafik atau bermuka dua).

Kalau kalian bertanya apakah aku adalah orang baik? Maka aku akan menjawab dengan tegas bahwa aku adalah orang baik, tapi kalau disandingkan dengan teori teko tadi, maka aku masih belum tergolong orang yang baik.

Terimakasih teko atas pelajarannya yang amat sangat berharga dipagi ini, dan aku akan berusaha menjadi orang baik walau sulit, tapi bukan berarti itu tak mungkin.

Adil dan Bendera Merah Putih

 

Bendera Merah Putih

Semalam sebelum perayaan hari kemerdekaan yang ke-71,

“mengapa esok mesti ada upacara bendera sih? Cuman buang-buang waktu, cape berdiri lama-lama, harusnyakan libur karena besok tanggal merah” gerutu Adil dalam hatinya.

Dengan rasa kesal, kecewa dan sedih, Adil bersiap dan berusaha untuk segera tidur agar besok tak terlambat mengikuti upacara bendera. Adil mencuci muka dan kakinya sebelum dia tidur dikasurnya yang empuk. Sebelum memejamkan matanya Adil tak lupa berterima kasih kepada Tuhannya dan membaca doa.

Setelah Adil terjaga dalam tidurnya, dalam suasana yang cukup gelap tiba-tiba seorang wanita yang begitu teduh dipandang wajahnya dan senyumnya yang begitu menentramkan menghampiri Adil.

 Adil pun bertanya “Kamu siapa?”

Lalu wanita itu tersenyum begitu manis dan menenangkan mata siapapun yang melihatnya, lalu wanita itu menjawab dengan suara yang lembut ”aku dikirimkan Tuhan untuk menjawab pertanyaan mu adik kecil.” Ucap wanita itu sambil mengusap-usap kepala Adil dengan sangat lembut. “mari ikuti aku.” Lalu wanita itupun melangkah, Adil seperti terhipnotis dan mengikuti begitu saja langkah sang wanita yang begitu cantik.

“Kamu siapa? Kita mau ke mana?” adil mencoba bertanya kembali kepada wanita itu, sambil berusaha mengimbangi langkah wanita itu.

“marilah ikuti aku.” Wanita itu berpaling pada Adil lalu tersenyum, sambil memalingkan wajahnya kembali ke depan wanita itu berucap kembali kepada Adil “aku hanya diperintah untuk jawaban pertanyaan yang ada dalam benak mu adik kecil.”

Adil menghentikan langkahnya lalu terdiam dan bertanya pada pikirannya sendiri “aku mau di bawa ke mana? Dia siapa? Apa dia orang baik?”

Melihat Adil terhenti, wanita itu menghampiri Adil lalu berjongkok dihadapan Adil, seperti bisa membaca apa yang sedang dipikirkan oleh Adil, wanita itu tersenyum begitu amat manis dan menentramkan, “ade ga usah khawatir, kakak ga akan macem-macem dan nyulik Adil kok, kita cuman mau jalan-jalan aja sebentar, udah yuk ikut kakak.”

Adil masih terdiam, wanita itu memperhatikan Adil yang masih belum melangkah dan seperti masih berdiskusi dengan pikirannya “marilah adik kecil, kamu akan baik-baik saja sama kakak.” Wanita itu pun meraih tangan Adil, dan dengan pasrah Adil mengikutinya.

Sekasatmata mereka berpindah ke suatu tempat yang begitu asing bagi Adil. Disebuah atap gedung terlihat empat orang berkumpul, satu orang memegang bendera berwarna merah, putih dan biru, tiga orang dengan senapan laras panjang menjaga di belakangnya sambil memperhatikan keadaan. Tiba-tiba terdengar teriakan yang sangat lantang dari seorang yang memegang bendera tersebut “ini negeri kami, tak pantas bendera ini berkibar dinegeri ini!” Lalu dengan cepat lelaki yang memegang bendera tersebut mengoyak kain berwarna biru, sehingga hanya menyisakan warna merah dan putih, tanpa komando keempat orang tersebut langsung melakukan sikap hormat bendera, terlihat haru dan bangga terpancar dari tubuh mereka.

“jangan bergerak kalian pemberontak!” teriak seorang dengan logat belanda dan diikuti oleh beberapa orang dibelakangnya dengan mengacungkan senjata kearah keempat orang tersebut “berani-beraninya kalian mengoyak bendera Netherland. Letakkan senjata dan angkat tangan kalian keparat!” perintah pemimpin penjajah tersebut.

Lalu keempat orang yang terpojok itu saling memandang, seperti mengetahui keinginan satu sama lain. “merdeka atau mati!” teriak seorang dari keempat orang tersebut, lalu mereka berempat berlari dan mencoba bersembunyi kedalam ruangan dan sesekali mengacungkan senjatanya kearah para penjajah tersebut, dan terjadilah baku tembak diantara para pejuang kemerdekaan dengan penjajah.

Karena kalah amunisi, keempat pejuang kemerdekaan itu pun mati diujung senapan para penjajah, Adil dan wanita berparas teduh itu pun melihat keempat pejuang tersebut diseret seperti hewan oleh anak buah kompeni tersebut. Adil terdiam melihat semua itu, dan dia merasa sedih sekaligus bangga dengan pejuang kemerdekaan negaranya.

(para pejuang rela mengorbankan darah dan nyawanya hanya demi mengibarkan bendera sangsaka merah putih)

Setelah itu wanita berparas teduh itu merahih kembali tangan Adil, dan mengajaknya kembali pergi kesuatu tempat.

“mau kemana lagi kita kak?” Tanya Adil pada wanita itu.

“Mari ikuti saja adik kecil.” Jawab wanita itu sambil memberikan senyuman manisnya kepada Adil. Adil pun seperti terhipnotis oleh senyuman kakak yang mengajaknya pergi tersebut, kali ini dengan sukarela Adil mengikuti kakak tersebut.

Kali ini Adil melihat kerumunan banyak orang yang mengitari sebuah panggung, dan terlihat dua orang berada didepan panggung, seorang menghadap microphone sambil memegang kertas dan seorang disampingnya menemani sambil memandang khalayak ramai dihadapan panggung. Dan dia teringat dengan dua sosok yang berada di panggung tersebut, mereka adalah proklamator bangsanya.

“Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan dll, diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja. Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 45. Atas nama bangsa Indonesia. Soekarno/Hatta.”

Seseorang berteriak “merdekaaaa-merdekaaaa!” Lalu tanpa komando orang-orang dihadapan panggung tersebut bersorak gembira, saling berangkulan bahkan berpelukan. Tak sedikit juga yang menitihkan air mata, lalu seketika bendera merah putih berkibar dengan gagah dan serentak seluruh orang yang berada disekitar panggung tersebut melakukan sikap hormat bendera dan terdengan nyanyian Indonesia raya.

Lalu seorang dipanggung tersebut mengucapkan sebuah kata “Perjuangan ku tidak begitu berat, karena hanya melawan penjajah, tapi perjuangan mu yang akan sangat berat, karena akan melawan bangsa mu sendiri.” Beliaupun terdiam dan menghela nafas, dan lalu melanjutkan ucapannya. “jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah! dan bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan jasa para pahlawannya. Dan Negara Republik Indonesia ini bukanlah milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatu suku, bukan milik golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari sabang sampai merauke!” lalu diapun menutup ucapannya dengan kata “MERDEKA!” dan seketika dia dan seorang yang menemaninya berdiri punturun dari panggung.

Mendengar ucapan pria tersebut perasaan haru dan bangga menyelimuti hati Adil, tanpa disadari matanya berkacca-kaca, tak terasa air mengaliri pipinya dan begitu hangat terasa ketika pipinya disentuh oleh air tersebut. Wanita itu merangkul Adil sambil mengelus kepala Adil  dengan begitu lembut dan berkata. “sudah jangan menangis, mari ikuti kaka lagi.” Dan wanita itu pun meraih tangan Adil kembali.

“siap-siap sebentar lagi keluar.” Seseorang memberikan instruksi kepada khalayak ramai yang sedang duduk santai sambil bercengkrama namun tak pernah lepas dari kalungan kamera dan HP, seketika kerumunan orang itu pun berkerumun didepan pintu, tak lama beberapa orang petugas mencoba mensterilkan jalan keluar “permisi mas mbak tolong ya diberi jalan.” Ucap petugas dengan begitu halus kepada khalayak ramai yang memadati pintu tersebut. Ketika jalan sudah menjulang dan para wartawan sudah berada dipinggir jalan, seseorang dengan kaos berlabel KORUPTOR keluar dari pintu gedung tersebut, seketika para wartawan riuh ingin melemparkan pertanyaan kepada orang tersebut.

Koruptor tersebut keluar dengan senyum yang lebar dan lambayan tangan ke kamera, mereka seperti tak punya rasasalah sedikit pun meski sudah menggunakan baju tahanan berlabel KORUPTOR. Tiba-tiba kerumunan orang itu pun mendekati koruptor tersebut dan saling melemparkan pertanyaan kepada koruptor tersebut, bahkan tak peduli badannya berada dibelakang badan orang lain namun bagi para wartawan tersebut yang penting tangan yang memegang alat perekan tepat berada didepan orang yang menggunakan kaus koruptor tersebut, demi mendapatkan sebuah pernyataan dari sang tertuduh koruptor tersebut. Lalu koruptor tersebut seketika menghentikan langkahnya mengadakan konfrensi pers dadakan dan berkata “saya ini di dzolimi, saya ga terlibat korupsi seperak pun” ucap koruptor tersebut. Lalu diapun dibawa oleh petugas kedalam mobil yang tahanan yang sudah menjemputnya.

Lalu wanita itu pun meraih tangan Adil dan tiba-tiba mereka sudah berpindah tempat kembali ke tempat dimana ada beberapa orang memegang kamera dan menjulur kan alat rekam untuk melakukan wawancara, namun orang yang diwawancara tersebut menutupi wajahnya, lalu sang wartawan bertanya.

“mengapa wajahnya di tutupi mbak?”

“saya malu pak takut ada keluarga atau temen saya dikampung tau pekerjaan saya dikotater nyata seperti ini.”

“memang pekerjaan mbak apa?”

“saya wiraswasta tubuh pak.”

Lalu tiba-tiba didatangkan seorang pria dengan baju berlumuran darah dan wajah bonyok, namun ketika melihat ada kamera dia langsung menutupi wajahnya. Lalu wartawan pun bertanya.

“kenapa wajahnya di tutupi pak?”

“saya malu pak takut ada keluarga atau temen saya tau saya melakukan kejahatan pak.”

“memangnya bapak melakukan kejahatan apa?”

“saya baru tertangkap mencuri ayam pak.”

Lalu wanita itu berjongkok dihadapan Adil sambil memegang pundak Adil dan menatap mata Adil dalam-dalam dan berkata “Adil kamu harusnya bersukur kamu dilahirkan sewaktu sudah bebas mengibarkan bendera, ga ada yang bakal bunuh kamu atau penjarain kamu cuman gara-gara mengibarin bendera merah putih, dipinggir jalan bendera itu harganya memang ga mahal, tapi bangsa ini beli bendera itu dengan sejarah sangat mahal Dil.”

Dengan polos Adilpun bertanya kepada wanita itu “emang bangsa ini beli berapa bendera itu kak?”

Wanita itu tersenyum kepada Adil, “bangsa ini beli bendera itu seharga dijajah 350 tahun, ditambah keringat dan darah para pejuang, seperti keempat pejuang yang mati ditembak gara-gara menyobekkan bendera biru biar jadi bendera merah putih, jadi Adil harus bersyukur karena sekarang Adil cuman disuruh buat upacara yang paling lama satu jam sesudah itu Adil bebas buat main.”

Adil pun terdiam dan memandangi wanita berparas cantik itu “bener juga ya kata kakak ini.” Ucap adil dalam hati. “iya deh kak kalo gitu.”

Wanita itu pun tersenyum dan mengusap kepala Adil lalu berkata “jadilah anak yang berbakti pada orang tua, agama, dan Negara ya Dil.jangan tanyakan apa yang udah Negara kasih sama Adil, tapi tanyain apa yang udah Adil kasih sama Negara ini Dil.”

Adil hanya menganggukkan kepadanya, tak terasa air matanya pun menetes kembali, dan ketika Adil mengusap air matanya dengan tangannya, wanita cantik itu menghilang dari hadapan Adil. Adil merasa ketakutan karena tiba-tiba suanana jadi gelap gulita, Adil pun memanggil wanita itu sambil berteriak “kakaaaakkk…..kakaaaakkkk…..”

Adil terperanjat dan terbangun dari tidurnya, seketika terduduk dari tidurnya Adil memikirkan mimpinya yang tadi dan berkata “benar kata kakak itu, aku sudah bebas mengibarkan dan hormat bendera merah putih, ga akan ada yang bakal nodong senjata kalaupun aku hormat bendera merah putih.

Adil teringat dia memiliki bendera merah putih pemberian kakek nya yang dia simpan di lemari bajunya, Adil pun mengambil bendera itu lalu menciumnya dan mengibarkan bendera tersebut, dengan penuh rasa bangga Adil melakukan hormat bendera, setelah itu usai Adil bersiap kesekolahnya untuk mengikuti upacara bendera dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Negaranya.

Romantis Anti-mainstream

Judul      : Dilan dia adalah Dilan ku tahun 1990.

Penulis   : Pidi Baiq

Penerbit : Mizan

Terbit     : 2014

Tebal      : 332 hlm

ISBN      : 978–602–7870–41–3

Novel ini dibuka oleh kata mutiara :

“Cinta itu indah, jika bagimu tidak, mungkin kamu salah milih pasangan”

Pidi Baik atau yang sering dipanggil Surayah

(Imam Besar The Panas Dalam).

Kisah ini menceritakan tentang seorang gadis remaja yang baru pindah dari jakarta ke kota Bandung, karena mengikuti orang tuanya yang dipindah tugaskan ke kota tersebut, gadis itu bernama Milea Adnan Hussain. Novel ini menceritakan tentang kisah cinta dari awal bertemu hingga Milea menjalin kasih dengan seorang laki-laki bernama Dilan.

Awal mula bertegursapa Dilan dengan Milea berbeda dengan kebanyakan orang yang langsung to the point mengajak kenalan, namun cara Dilan awal mula adalah berpura-pura bisa meramal, dan itu membuat Milea awalnya merasa aneh dengan sikap yang ditunjukkan Dilan. Hingga akhirnya kejutan-kejutan yang tak terduga ditunjukkan Dilan kepada Milea.

Hal-hal yang amat sangat sederhana yang dilakukan Dilan kepada Milea membuat Milea tersenyum dan tanpa disadari Milea mampu mengalihkan perhatian dan hatinya dari kekasihnya bernama Beni kepada Dilan.

dalam cerita ini dikatakan bahwa Dilan adalah seorang anak genk motor, namun dia memiliki otak yang begitu cerdas, namun kadang-kadang juga mampu bersikap begitu sangat konyol sehingga membuat saya sebagai pembaca tak habis pikir dengan sikapnya.

Kutipan-kutipan yang hebat dan konyol di buku ini begitu bertaburan, seperti :

“Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan.

Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli.”

“Milea, Kamu Cantik, Tapi aku belum mencintaimu.

Engga tahu kalau sore. Tunggu aja.”

Puisi Dilan untuk Milea :

“Milea 1”

Boleh aku punya pendapat?

Ini tentang dia yang ada di bumi

Ketika Tuhan menciptakan dirinya

Ku kira Dia ada maksud mau pamer

Dilan, Bandung 1990

“Milea 2”

Katakana sekarang

Kalau kue kau anggap apa dirimu?

Roti cokelat? Roti keju?

Martabak? Kroket? Bakwan?

Ayolah !

Aku ingin memesannya

Untuk mala mini

Aku mau kamu

Dilan, Bandung 1990