Adil dan Bendera Merah Putih

 

Bendera Merah Putih

Semalam sebelum perayaan hari kemerdekaan yang ke-71,

“mengapa esok mesti ada upacara bendera sih? Cuman buang-buang waktu, cape berdiri lama-lama, harusnyakan libur karena besok tanggal merah” gerutu Adil dalam hatinya.

Dengan rasa kesal, kecewa dan sedih, Adil bersiap dan berusaha untuk segera tidur agar besok tak terlambat mengikuti upacara bendera. Adil mencuci muka dan kakinya sebelum dia tidur dikasurnya yang empuk. Sebelum memejamkan matanya Adil tak lupa berterima kasih kepada Tuhannya dan membaca doa.

Setelah Adil terjaga dalam tidurnya, dalam suasana yang cukup gelap tiba-tiba seorang wanita yang begitu teduh dipandang wajahnya dan senyumnya yang begitu menentramkan menghampiri Adil.

 Adil pun bertanya “Kamu siapa?”

Lalu wanita itu tersenyum begitu manis dan menenangkan mata siapapun yang melihatnya, lalu wanita itu menjawab dengan suara yang lembut ”aku dikirimkan Tuhan untuk menjawab pertanyaan mu adik kecil.” Ucap wanita itu sambil mengusap-usap kepala Adil dengan sangat lembut. “mari ikuti aku.” Lalu wanita itupun melangkah, Adil seperti terhipnotis dan mengikuti begitu saja langkah sang wanita yang begitu cantik.

“Kamu siapa? Kita mau ke mana?” adil mencoba bertanya kembali kepada wanita itu, sambil berusaha mengimbangi langkah wanita itu.

“marilah ikuti aku.” Wanita itu berpaling pada Adil lalu tersenyum, sambil memalingkan wajahnya kembali ke depan wanita itu berucap kembali kepada Adil “aku hanya diperintah untuk jawaban pertanyaan yang ada dalam benak mu adik kecil.”

Adil menghentikan langkahnya lalu terdiam dan bertanya pada pikirannya sendiri “aku mau di bawa ke mana? Dia siapa? Apa dia orang baik?”

Melihat Adil terhenti, wanita itu menghampiri Adil lalu berjongkok dihadapan Adil, seperti bisa membaca apa yang sedang dipikirkan oleh Adil, wanita itu tersenyum begitu amat manis dan menentramkan, “ade ga usah khawatir, kakak ga akan macem-macem dan nyulik Adil kok, kita cuman mau jalan-jalan aja sebentar, udah yuk ikut kakak.”

Adil masih terdiam, wanita itu memperhatikan Adil yang masih belum melangkah dan seperti masih berdiskusi dengan pikirannya “marilah adik kecil, kamu akan baik-baik saja sama kakak.” Wanita itu pun meraih tangan Adil, dan dengan pasrah Adil mengikutinya.

Sekasatmata mereka berpindah ke suatu tempat yang begitu asing bagi Adil. Disebuah atap gedung terlihat empat orang berkumpul, satu orang memegang bendera berwarna merah, putih dan biru, tiga orang dengan senapan laras panjang menjaga di belakangnya sambil memperhatikan keadaan. Tiba-tiba terdengar teriakan yang sangat lantang dari seorang yang memegang bendera tersebut “ini negeri kami, tak pantas bendera ini berkibar dinegeri ini!” Lalu dengan cepat lelaki yang memegang bendera tersebut mengoyak kain berwarna biru, sehingga hanya menyisakan warna merah dan putih, tanpa komando keempat orang tersebut langsung melakukan sikap hormat bendera, terlihat haru dan bangga terpancar dari tubuh mereka.

“jangan bergerak kalian pemberontak!” teriak seorang dengan logat belanda dan diikuti oleh beberapa orang dibelakangnya dengan mengacungkan senjata kearah keempat orang tersebut “berani-beraninya kalian mengoyak bendera Netherland. Letakkan senjata dan angkat tangan kalian keparat!” perintah pemimpin penjajah tersebut.

Lalu keempat orang yang terpojok itu saling memandang, seperti mengetahui keinginan satu sama lain. “merdeka atau mati!” teriak seorang dari keempat orang tersebut, lalu mereka berempat berlari dan mencoba bersembunyi kedalam ruangan dan sesekali mengacungkan senjatanya kearah para penjajah tersebut, dan terjadilah baku tembak diantara para pejuang kemerdekaan dengan penjajah.

Karena kalah amunisi, keempat pejuang kemerdekaan itu pun mati diujung senapan para penjajah, Adil dan wanita berparas teduh itu pun melihat keempat pejuang tersebut diseret seperti hewan oleh anak buah kompeni tersebut. Adil terdiam melihat semua itu, dan dia merasa sedih sekaligus bangga dengan pejuang kemerdekaan negaranya.

(para pejuang rela mengorbankan darah dan nyawanya hanya demi mengibarkan bendera sangsaka merah putih)

Setelah itu wanita berparas teduh itu merahih kembali tangan Adil, dan mengajaknya kembali pergi kesuatu tempat.

“mau kemana lagi kita kak?” Tanya Adil pada wanita itu.

“Mari ikuti saja adik kecil.” Jawab wanita itu sambil memberikan senyuman manisnya kepada Adil. Adil pun seperti terhipnotis oleh senyuman kakak yang mengajaknya pergi tersebut, kali ini dengan sukarela Adil mengikuti kakak tersebut.

Kali ini Adil melihat kerumunan banyak orang yang mengitari sebuah panggung, dan terlihat dua orang berada didepan panggung, seorang menghadap microphone sambil memegang kertas dan seorang disampingnya menemani sambil memandang khalayak ramai dihadapan panggung. Dan dia teringat dengan dua sosok yang berada di panggung tersebut, mereka adalah proklamator bangsanya.

“Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan dll, diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja. Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 45. Atas nama bangsa Indonesia. Soekarno/Hatta.”

Seseorang berteriak “merdekaaaa-merdekaaaa!” Lalu tanpa komando orang-orang dihadapan panggung tersebut bersorak gembira, saling berangkulan bahkan berpelukan. Tak sedikit juga yang menitihkan air mata, lalu seketika bendera merah putih berkibar dengan gagah dan serentak seluruh orang yang berada disekitar panggung tersebut melakukan sikap hormat bendera dan terdengan nyanyian Indonesia raya.

Lalu seorang dipanggung tersebut mengucapkan sebuah kata “Perjuangan ku tidak begitu berat, karena hanya melawan penjajah, tapi perjuangan mu yang akan sangat berat, karena akan melawan bangsa mu sendiri.” Beliaupun terdiam dan menghela nafas, dan lalu melanjutkan ucapannya. “jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah! dan bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan jasa para pahlawannya. Dan Negara Republik Indonesia ini bukanlah milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatu suku, bukan milik golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari sabang sampai merauke!” lalu diapun menutup ucapannya dengan kata “MERDEKA!” dan seketika dia dan seorang yang menemaninya berdiri punturun dari panggung.

Mendengar ucapan pria tersebut perasaan haru dan bangga menyelimuti hati Adil, tanpa disadari matanya berkacca-kaca, tak terasa air mengaliri pipinya dan begitu hangat terasa ketika pipinya disentuh oleh air tersebut. Wanita itu merangkul Adil sambil mengelus kepala Adil  dengan begitu lembut dan berkata. “sudah jangan menangis, mari ikuti kaka lagi.” Dan wanita itu pun meraih tangan Adil kembali.

“siap-siap sebentar lagi keluar.” Seseorang memberikan instruksi kepada khalayak ramai yang sedang duduk santai sambil bercengkrama namun tak pernah lepas dari kalungan kamera dan HP, seketika kerumunan orang itu pun berkerumun didepan pintu, tak lama beberapa orang petugas mencoba mensterilkan jalan keluar “permisi mas mbak tolong ya diberi jalan.” Ucap petugas dengan begitu halus kepada khalayak ramai yang memadati pintu tersebut. Ketika jalan sudah menjulang dan para wartawan sudah berada dipinggir jalan, seseorang dengan kaos berlabel KORUPTOR keluar dari pintu gedung tersebut, seketika para wartawan riuh ingin melemparkan pertanyaan kepada orang tersebut.

Koruptor tersebut keluar dengan senyum yang lebar dan lambayan tangan ke kamera, mereka seperti tak punya rasasalah sedikit pun meski sudah menggunakan baju tahanan berlabel KORUPTOR. Tiba-tiba kerumunan orang itu pun mendekati koruptor tersebut dan saling melemparkan pertanyaan kepada koruptor tersebut, bahkan tak peduli badannya berada dibelakang badan orang lain namun bagi para wartawan tersebut yang penting tangan yang memegang alat perekan tepat berada didepan orang yang menggunakan kaus koruptor tersebut, demi mendapatkan sebuah pernyataan dari sang tertuduh koruptor tersebut. Lalu koruptor tersebut seketika menghentikan langkahnya mengadakan konfrensi pers dadakan dan berkata “saya ini di dzolimi, saya ga terlibat korupsi seperak pun” ucap koruptor tersebut. Lalu diapun dibawa oleh petugas kedalam mobil yang tahanan yang sudah menjemputnya.

Lalu wanita itu pun meraih tangan Adil dan tiba-tiba mereka sudah berpindah tempat kembali ke tempat dimana ada beberapa orang memegang kamera dan menjulur kan alat rekam untuk melakukan wawancara, namun orang yang diwawancara tersebut menutupi wajahnya, lalu sang wartawan bertanya.

“mengapa wajahnya di tutupi mbak?”

“saya malu pak takut ada keluarga atau temen saya dikampung tau pekerjaan saya dikotater nyata seperti ini.”

“memang pekerjaan mbak apa?”

“saya wiraswasta tubuh pak.”

Lalu tiba-tiba didatangkan seorang pria dengan baju berlumuran darah dan wajah bonyok, namun ketika melihat ada kamera dia langsung menutupi wajahnya. Lalu wartawan pun bertanya.

“kenapa wajahnya di tutupi pak?”

“saya malu pak takut ada keluarga atau temen saya tau saya melakukan kejahatan pak.”

“memangnya bapak melakukan kejahatan apa?”

“saya baru tertangkap mencuri ayam pak.”

Lalu wanita itu berjongkok dihadapan Adil sambil memegang pundak Adil dan menatap mata Adil dalam-dalam dan berkata “Adil kamu harusnya bersukur kamu dilahirkan sewaktu sudah bebas mengibarkan bendera, ga ada yang bakal bunuh kamu atau penjarain kamu cuman gara-gara mengibarin bendera merah putih, dipinggir jalan bendera itu harganya memang ga mahal, tapi bangsa ini beli bendera itu dengan sejarah sangat mahal Dil.”

Dengan polos Adilpun bertanya kepada wanita itu “emang bangsa ini beli berapa bendera itu kak?”

Wanita itu tersenyum kepada Adil, “bangsa ini beli bendera itu seharga dijajah 350 tahun, ditambah keringat dan darah para pejuang, seperti keempat pejuang yang mati ditembak gara-gara menyobekkan bendera biru biar jadi bendera merah putih, jadi Adil harus bersyukur karena sekarang Adil cuman disuruh buat upacara yang paling lama satu jam sesudah itu Adil bebas buat main.”

Adil pun terdiam dan memandangi wanita berparas cantik itu “bener juga ya kata kakak ini.” Ucap adil dalam hati. “iya deh kak kalo gitu.”

Wanita itu pun tersenyum dan mengusap kepala Adil lalu berkata “jadilah anak yang berbakti pada orang tua, agama, dan Negara ya Dil.jangan tanyakan apa yang udah Negara kasih sama Adil, tapi tanyain apa yang udah Adil kasih sama Negara ini Dil.”

Adil hanya menganggukkan kepadanya, tak terasa air matanya pun menetes kembali, dan ketika Adil mengusap air matanya dengan tangannya, wanita cantik itu menghilang dari hadapan Adil. Adil merasa ketakutan karena tiba-tiba suanana jadi gelap gulita, Adil pun memanggil wanita itu sambil berteriak “kakaaaakkk…..kakaaaakkkk…..”

Adil terperanjat dan terbangun dari tidurnya, seketika terduduk dari tidurnya Adil memikirkan mimpinya yang tadi dan berkata “benar kata kakak itu, aku sudah bebas mengibarkan dan hormat bendera merah putih, ga akan ada yang bakal nodong senjata kalaupun aku hormat bendera merah putih.

Adil teringat dia memiliki bendera merah putih pemberian kakek nya yang dia simpan di lemari bajunya, Adil pun mengambil bendera itu lalu menciumnya dan mengibarkan bendera tersebut, dengan penuh rasa bangga Adil melakukan hormat bendera, setelah itu usai Adil bersiap kesekolahnya untuk mengikuti upacara bendera dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Negaranya.

Tidak Ada New York Hari Ini

Tidak ada New York hari ini,
Tidak ada New York kemarin,
Aku sendiri dan tidak berada disini,
Semua orang adalah orang lain,

Bahasa ibu adalah kamar tidurku,

Kupeluk tubuh sendiri,

Dan cinta -kau tak ingin aku mematikan mata lampu.

Jendela terbuka dan masa lampau memasukiku sebagai angin,

Meriang. Meriang. Aku meriang,

Kau yang panas dikening.

Kau yang dingin dikenang.

Hari ini tidak pernah ada.
Kemarin tidak nyata.
Aku sendiri dan tidak menulis puisi ini.
Semua kata tubuh mati semata.

Puisi adalah museum yang lengang.

Masa remaja dan negeri jauh. Jatuh dan patah. Foto-foto hitam putih.

Aroma kemeja ayah dan senyum perempuan yang tidak membiarkanku merindukan senyum lain.

Tidak ada pengunjung. Tidak ada pengunjung.

Dibalik jendela, langit sedang mendung.

Tidak ada puisi hari ini.

Tidak ada puisi kemarin.

Aku menghapus seluruh kata,

Sebelum sempat ku menuliskannya.

(Karya : M. Aan Mansyur)

Maribaya

Hallo-hallo Bandung !!!

Hai Genk, ah lama banget ya saya istirahat nulis projek ini (efek PC ngadat nih). Oke ini tulisan pertama dari projek Setitik Bandung Untuk Kawan yang sengaja saya buat dan dedikasikan kepada kawan-kawan saya di seberang sana yang sangat berkeinginan menginjakkan kakinya ke Bandung, namun belum diberikan kesempatan oleh Yang Maha Kuasa. Dengan ini seengganya secara ga langsung saya ingin mengajak mereka untuk menikmati Bandung bersama saya (itupun kalo mereka baca hahaha), walau hanya lewat tulisan dan foto-foto saya yang kurang bagus.

Oke Genk kali ini saya mau sedikit mengajak khayalan kalian jalan-jalan ke setitik Bandung yang pernah saya kunjungin, setitik Bandung yang begitu sejuk dan asri, saya gatau ini kemasuk daerah Dago atau Lembang (hehehe…), tapi ga usah diambil pusing apa itu daerahnya, yang penting kalian tau nama tempat wisata itu adalah Maribaya. Oke, tapi setelah tau nama tempatnya jangan sampe kalian terburu-buru sampai akhirnya salah tempat masuk wisata cuman gara-gara liat banyak mobil numpuk ditempat itu (pengalaman hahaha…).

Yap, kalo kalian kurang fokus, dan cuman mengandalkan pemikiran “tempat wisata pasti banyak mobil dan bus digerbangnya” kalian salah besar dan bisa menyebabkan salah masuk tempat wisata, karena didaerah ini banyak sekali tempat wisatanya, bisa-bisa kalian malah masuk ke Dago Pakar (Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda).

Pasti yang pertama ditanyakan tentang tempat wisata adalah “bagus ga tempatnya?” setelah itu pasti kalian bertanya “berapa harga tiket masuknya?” kalian ga akan nyesel ke Maribaya, tempatnya bagus buat kalian yang ngerinduin wisata alam, apalagi buat kalian yang terlalu sering bersinggungan sama kepenatan kota. Untuk tiket masuknya Rp. 35.000.- + 1 kupon yang bisa dituker sama air mineral (harga bisa berubah sewaktu-waktu), jangan banyak bawa makanan, karena kalian dilarang membawa makanan dari luar, tapi jangan khawatir didalam pun terdapat tempat-tempat makanan kok, mulai dari cafe sampe kios-kios.

bisa dibilang tugu selamat datang

Seperti disetiap tempat wisata, pasti cover setelah pintu masuk adalah tugu/monumen (atau apalah kalian sering menyebutnya). Ditembok ini terdapat beberapa gambar (saya lupa gambar apa aja ditemboknya), bagi kalian yang suka selfie untuk sekedar narsis atau pamer atau apalah niatannya bisa kalian selfie disini (banyak ko yang selfie jadi ga perlu malu atau sungkan hehe).

Nah di balik tugu selamat datang ini ada denah lokasi dari maribaya, jadi kalian yang takut nyasar dikawasan ini bisa mengatur rencana tripnya dulu, karena jika kalian terlalu bersemangat dan kebablasan bisa-bisa kalian masuk ke kawasan Dago Pakar.

Selain di Tembok/Tugu Selamat Datang, kalian juga bisa selfie-selfie ria di gubuk/gazebo ala-ala jaman dulu, atau biar lebih ngena momen fotonya kalian juga bisa menyewa kostum jadul, yang berupa khas adat Sunda (Pangsi / kebaya) dengan harga Rp.10.000,-/kostum

Jika kalian merasa lelah berkeliling kalian bisa duduk-duduk santai disebuah lapangan, yang tempat duduknya didesain seperti tangga (mungkin itu didesain untuk pentas pertunjukan). dan disekitaran lapangan tersebut kalian bisa menemukan kios-kios penjual makanan, mulai dari batagor, seblak, lotek, lontong, tahu, jagung dan sosis bakar, dll pokonya banyaklah. “gimana harganya?” tenang harga makanan di kios-kios tersebut cukup bersahabat, ga perlu ngerogoh saku terlalu dalam ko hehehe…

Di Maribaya juga terdapat beberapa binatang mulai dari Kuda, Kelinci, Rusa, dan merpati, siapatau kalian berminat berfoto ria dengan hewan-hewan tersebut.

penampakan Merpati dikandang Rusa Tutul.

Penampakan si Rusa Tutul

Disini juga ada Rumah Hobbit loh, buat kalian yang suka selfie-selfi ria, bisa selfie-selfie di rumah hobbit.

Rumah Hobbit

Selain itu, disinipun kalian bisa melihat air terjun dan juga berenang, tapi dikolam khusus air panas, bukan di air terjun, air terjun hanya cukup kalian nikmati saja pesonanya.

Air Terjun Maribaya

air terjun Maribaya

nih satu lagi, ga kalah sama jembatan yang penuh sama gembok cinta, disini juga ada taman yang disediain buat kalian yang percaya mitos tentang menempel gembok cinta.

Ah, sudah saya lelah bercerita, mungkin cukup sekian dulu cerita Setitik Bandung Untuk Kawan Edisi Maribaya, maaf kalo kurang seru, dan berasa cerita ga jelas, dan foto-fotonya kurang bagus (ahahaha…) tapi kalian patut ke sini kalo mampir ke Bandung, sebenernya spot-spotnya masih banyak, cuman saya lupa, pokonya kalian harus banget ke sini it’s recomended !!!!

Oke, sampai jumpa di cerita Setitik Bandung Untuk Kawan selanjutnya ya, Bye !!!

Setitik Bandung untuk Kawan

Bandung, orang Indonesia mana sih yang ga tau kota yang bernama Bandung ? kalo kalian belum tau Bandung, saya kasih sedikit gambaran tentang Bandung. Bandung adalah Ibu Kota Provinsi Jawa Barat.

Bandung juga adalah tempat dimana mojang gareulis (gadis cantik) berasal. Surganya bagi orang-orang yang senang belanja, mulai dari belanja urusan penampilan sampai belanja urusan isi perut, semua ada di Bandung. Selain itu bagi kalian yang seneng sama suasana alam, pemandangan alam di Bandung itu JAWARA !!! kawasan Bandung utara dan selatan adalah tempat buat menikmati Bandung dari ketinggian. Walaupun diapit oleh dataran tinggi yang menjulang yang membuat Bandung seperti katel (wajan), dan ternyata di Bandung juga terdapat pantai, yaitu pantai buatan dikawasan Kampung Gajah Wonderland. Gila Bandung makin kumplit dan pas banget buat dihunikan? tapi kalian jangan ada keinginan buat tinggal di Bandung karena udah heurin (sempit/padat) nanti hese usik (susah gerak).

Selain itu banyak juga tempat wisata bersejarah di kota Bandung, bahkan proklamator bangsa Indonesia membuat pleidoi yang diberi judul Indonesia Menggugat pun di kota Bandung !!! selain itu ada juga saksi bisu yang menjadi tempat dimana Negara Asia-Afrika berkonfrensi yang biasa disebut Konfrensi Asia-Afrika yang menghasilkan Dasasila Bandung. Dan juga ada sebuah gedung bernama Gedung Sate.

(bentuknya seperti bangunan-bangunan belanda pada umumnya, namun karena ada sebuah tiang yang berbentuk sate diatas gedung tersebut, jadi orang-orang menamakannya gedung sate, jadi jangan mengira gedung ini berbentuk sate ya, hehehe).

Selain masalah gaya, isi perut, cuci mata, dan sejarah, di Kota Bandung pun terdapat satu klub sepak bola yang sangat besar dan bergengsi di Indonesia, jika diantara kalian adalah penggemar sepak bola, pasti sudah tak asing dengan tim sepak bola asal kota Bandung, yang bernama Persib Bandung. bagi kebanyakan orang Bandung, Persib bukan hanya sebatas tontonan semata, namun sudah seperti budaya yang diwariskan dari kakek, ke ayah, bahkan sampai ke anak dan cucu. Pendukung Persib Bandung biasa disebut dengan Bobotoh, loyalitasnya bagi Persib jangan ditanya, poko na mah Totalitas Tanpa batas !!! bahkan ketika Persib menjuarai Liga Indonesia Tahun 2014, Kota Bandung berubah menjadi lautan biru !!! dari Kakek, Nenek, Ayah, Ibu, Anak, Cucu, sampai Cicit tumpahruah kejalanan ikut berpesta dan berbahagia dengan gelar juara persib. Nah terbuktikan bahwa Persib Bandung itu bukan sebatas ditonton dan didukung dilapangan saja, namun sampai budaya yang diwariskan.

Oke cukup dulu membahas sekilas tentang Bandung dan pernak-perniknya, kembali ke topik. Proyek (biar bergensi dikit makanya saya katakan proyek, hahaha) yang berjudul “Setitik Bandung Untuk Kawan”. Sebenarnya itu bukan sebatas judul, bagi saya itu merupakan sebuah tema. Saya terilhami untuk menulis “Proyek” Setitik Bandung Untuk Kawan adalah ketika saya sedang berada dipulau Sulawesi, tepatnya di kota Palu. Terbersit ketika ada beberapa teman disana yang katanya ingin sekali ke Bandung namun belum kesampaian, dan juga kesan-kesan dari beberapa teman yang pernah singgah dan menghabiskan hari-harinya di Bandung (entah demi tugas perusahaan ataupun hanya sebatas liburan).

Mengapa saya ingin menulis tulisan yang bertemakan “Setitik Bandung Untuk Kawan” ? ya, karena memang saya dedikasikan untuk kawan-kawan yang telah menerima saya dengan baiksekali ketika saya berada di kota Palu. Dan sebenarnya terbersit untaian kalimat itu ketika saya membaca novel berjudul “Sepotong Senja Untuk Pacarku” karya Seno Gumira Ajidarma.

Definisi Bandung dari seorang musisi/seniman kota bandung, Pidi Baiq (Surayah) :

Ungkapan Martinus Antonius Weselinus Brouwer :

Pasti dari tulisan saya diblog ini tak akan mampu membawa raga kalian ke Bandung, namun semoga saja mampu membawa bayangan yang ada dalam pikiran kalian ketempat yang kelak akan saya tuliskan disini, karena “membaca adalah mesin waktu yang nyata, ketika kita dengan khidmat membaca tulisannya.”

Selamat Menikmati Bandung dari tarian jemari saya diatas papan Keyboard yang lusuh.

Konstitusioalnya Kedaulatan Rakyat Pra-Amandemen UUD 1945

Jika kita berbicara tentang Negara, maka tak dapat dipisahkan dengan kedaulatan apa yang digunakan oleh Negara tersebut, apakah kedaulatan Tuhan, Raja, Rakyat, Hukum, atau Negara. Kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi  dan absolut dan tidak ada instansi dan/atau lembaga yang dapat mengkontrol dan/atau mengaturnya.

Jika kita ingat sebelum amandemen Undang-Undang Dasar 1945, konstitusi kita mengamanatkan dalam pasal 1 ayat (2) kedaulatan itu dilaksanakan secara penuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, maka memang tak salah jika sebelum Undang-Undang Dasar 1945 diamandemen Majelis Permusyawaratan Rakyat menjadi lembaga Negara yang superior, karena pada masa itu Majelis Permusyawaratan Rakyat diamanati oleh Konstitusi menjadi pelaksana kedaulatan rakyat secara penuh.

Jika dilihat dari persfektif Hukum Tata Negara, kesuperioran Majelis Permusyawaratan Rakyat pada masa sebelum diamandemennya Undang-Undang Dasar 1945 bukanlah suatu tindakan yang berlawanan dengan konstitusi (inkonstitusional). Malahan kesuperioran Majelis Permusyawaratan Rakyat pada saat itu memang sudah seperti seharusnya, karena diamanatkan konstitusi sebagai pelaksana kedaulatan sepenuhnya.

Pada masa sebelum amandemen Undang-Undang Dasar 1945, Majelis Permusyawaratan Rakyat sudah menjalankan fungsinya dengan baik, Kenapa saya katakan baik? Karena pada saat itu Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai pelaksana kedaulatan rakyat secara penuh (pasal 1 ayat (2) UUD 1945 sebelum amandemen) dan sebagai lembaga tertinggi (sila ke-4 Pancasila yang juga tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 dalam Alinea ke-4) tidak ada konstitusi yang dilanggar oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dikala itu. Namun karena pada saat itu Undang-Undang Dasar tidak membatasi berapa kali presiden dapat dipilih, maka Persiden dikala itu bisa bertahan hingga selama kurang lebih 32 Tahun dipucuk tertinggi bangsa ini.

Jadi menurut saya pribadi, pada saat sebelum Undang-Undang Dasar 1945 diamandemen, Majelis Permusyawaratan Rakyat sudah dengan baik melaksanakan apa yang diamanatkan oleh konstitusi, justru pasca amandemenlah saat dimana Majelis Permusyawaratan Rakyat di Indonesia itu sudah tidak sesuai dengan konstitusi (inkonstitusional).

(sudut pandang Hukum Tata Negara bukan Politisi/simpatisan Paham)

Negara yang Baik, Berasaskan Pancasila

Sistem pemerintahan terdiri dari dua suku kata, yaitu : sistem dan pemerintahan. Kata sistem berasal dari bahasa latin dan atau bahasa yunani yang berarti suatu kesatuan yang terdiri dari komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi untuk mencapai tujuan tertentu, dan pemerintahan adalah semua aparatur Negara yang meliputi semua organ-organ, badan atau lembaga dan alat kelengkapan Negara yang menjalankan berbagai aktivitas untuk mencapai tujuan Negara, karena indonesia menganut trias politica organ-organ atau lembaga Negara yang dimaksud adalah lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Dan sistem pemerintahan adalah suatu sistem untuk memudahkan lembaga Negara dalam menjalankan aktivitas Negara dalam mencapai tujuan Negara yang tercantum dalam konstitusi suatu negara.

System pemerintahan terbagi kedalam beberapa bentuk, yaitu : sistem pemerintahan presidensil, sistem pemerintahan semi-presidensil, sistem pemerintahan parlementer, system pemerintahan komunis, system pemerintahan demokrasi liberalis, dan system pemerintahan liberal.

System pemerintahan ini memiliki suatu tujuan untuk menjaga kestabilan Negara akan tetapi seringpula terjadi gerakan sparatisme yang muncul karena dianggap merugikan rakyat, contohnya saja gerakan separatism di wilayah indonesia seperti GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di Aceh, OPM (Organisasi Papua Merdeka), dll. Seharusnya system pemerintahan itu berdasarkan kepada konstitusi suatu Negara dan jangan sampai menimbulkan multi-tafsir dari konstitusi tersebut. karena lahirnya suatu konstitusi Negara itu tercipta dari kebudayaan local bangsa tersebut. namun karena terjadinya multi-tafsir dari konstitusi tersebut maka menimbulkan masalah yang mendasar di Negara tersebut dan menimbulkan gerakan separatism, namun sayangnya kebanyakan orang kadang menganggap bahwa hal itu terjadi karena kesalahan dari konstitusi. Padahal tidak ada yang salah dari konstitusi tersebut, hanya saja kontistusi yang multi-tafsir tersebut diselewengkan oleh orang-orang yang ingin meraup keuntungan dari Negara Indonesia yang subur ini, dan karena masyarakat masih kurang paham terhadap konstitusi, dan orang yang mengerti dan mendalami konstitusi itu acuh dan mungkin juga tidak pernah terfikir atau mengingat kembali dan mempelajari kembali tentang konstitusi bangsa Indonesia, maka dari itu permasalahan mendasar bagi bangsa Indonesia tidak pernah selesai sampai kapanpun jika saja orang-orang yang mengerti tentang tata Negara sangat acuh terhadap bangsanya.

Semua orang hanya tahu bahwa Indonesia adalah Negara yang menganut system presidensil semata hanya karena presiden adalah sebagai kepala pemerintahan dan kepala Negara, namun sayangnya mereka itu tidak pernah mengerti dan mungkin belum pernah mencoba untuk memahami konstitusi yang menjadi dasar bangsa Indonesia. Jika dilihat dari konstitusi Indonesia yaitu Undang-Undang Dasar 1945 dalam pembukaan undang-undang dasar dikatakan bahwa “kerakyatan dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan” dari pembukaan UUD 1945 tersebut terlihat jelas bahwa Indonesia bukanlah penganut system presidensial murni seperti yang saat ini banyak orang ketahui, tetapi seharusnya Indonesia menganut system semi-presidensial. Sebenarnya pada masa orde baru Indonesia benar-benar menganut system semi-presidensial karena Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada saat itu masih menjadi mandataris rakyat sebagai lembaga tertinggi Negara yang menjalankan kedaulatan rakyat. Namun pasca amandemen undang-undang dasar 1945 Majelis Permusyawaratan Rakyat bukan lagi menjadi mandataris kedaulatan rakyat karena pasca amandemen undang-undang dasar kedaulatan rakyat dijalankan berdasarkan Undang-undang.

 Teori Kedaulatan Rakyat

Indonesia merupakan salahsatu Negara yang berasaskan kedaulatan rakyat, istilah kedaulatan rakyat merupakan perpaduan antara dua kata, yaitu kata “kedaulatan” yang dapat diartikan bahwa kedaulatan merupakan kekuasaan tertinggi dalam Negara dan menjadi atribut bagi Negara sebagai organisasi masyarakat yang paling besar.  Dan kata “rakyat” yang dapat diartikan adalah bagian dari suatu negara atau elemen penting dari suatu pemerintahan. Rakyat terdiri dari beberapa orang yang mempunyai ideologi sama dan tinggal di daerah/pemerintahan yang sama dan mempunyai hak dan kewajiban yang sama yaitu untuk membela negaranya bila diperlukan.

Dalam konstitusi Indonesia dikatakan bahwa Indonesia berkedaulatan rakyat, dan tercantum dalam pasal 1 ayat 2 undang-undang dasar 1945, hanya saja terdapat perubahan ketika undang-undang dasar 1945 diamandemen, sebelum diamandemennya undang-undang dasar 1945 kedaulatan rakyat dilaksanakan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan setelah UUD 1945 kedaulatan rakyat dilaksanakan menurut Undang-Undang.

Pasca diamandemennya UUD 1945 yang menyatakan kedaulatan rakyat dilaksanakan menurut undang-undang, hanya terasa kedaulatan rakyat itu terwujud ketika pemilihan umum semata, setelah pemilihan umum rampung dan pemerintahan telah terbentuk kedaulatan rakyat itu terasa sudah selesai, dan nanti kembali hadir ketika pemilu akan dilaksanakan kembali. Berbeda ketika sebelum diamandemennya UUD 1945 kedaulatan rakyat yang dilakukan sepenuhnya oleh MPR yang dari awal didirikannya oleh pendiri bangsa sebagai lembaga untuk menjadi symbol dari kedaulatan rakyat. Dan itu terasa lebih baik dibandingkan dengan sekarang setelah UUD 1945 diamandemen, karena pasca amandemen UUD 1945 presiden sebagai kepala Negara yang memiliki kekuasaan begitu besar untuk memimpin sebuah Negara yang sangat besar tidak harus melakukan laporan pertanggung jawaban setelah masa jabatannya berakhir, dan juga hilangnya Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) pasca amandemen UUD 1945 membuat masyarakat tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh pemimpinnya pada masa jabatannya, dan kalaupun tahu apa yang akan dilakukan oleh pemimpinnya dari janji-janji ketika masa kampanye itu tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat dan apabila janji kampanye tersebut tidak dilaksanakan maka tidak ada aturan yang menyatakan bahwa presiden harus meninggalkan tahtanya sebelum masa jabatannya berahir.

Jika dilihat dari konstitusi Indonesia, sebenarnya Indonesia adalah penganut system –semi-presidensil bukan system presidensil, karena tercantum dalam preambule Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke-4 yang menyatakan bahaw “ … Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan …”. Bung Karno berkehendak untuk mengejawantahkan aspirasi rakyat dalam sistem perwakilan, dan M.Yamin yang berpendapat bahwa perlunya prinsip kerakyatan dalam penyelenggaraan suatu Negara, serta soepomo yang mencetuskan perubahan nama yang sebelumnya “badan permusyawarantan” berubah menjadi “majelis permusyawaratan rakyat” dengan anggapan bahwa majelis permusyawaratan rakyat ini merupakan suatu penjelmaan dari seluruh rakyat Indonesia.

Jejak Langkah (Tetralogi Pulau Buru)

Judul       : Jejak Langkah

Penulis   : Pramoedya Ananta Toer

Halaman : 724

Penerbit  : Lentera Dipantara

Cetakan  : 9, Februari 2012

ISBN        : 979-97312-5-9

 

Jejak langkah adalah buku ke-3 dari 4 seri tetralogy pulau buru karya Pramoedya Ananta Toer, dalam kisah yang berjudul Jejak Langkah ini, masih dengan tokoh utama yang sama yaitu, Minke. Dalam kisah ini Minke sudah berpindah dari Surabaya ke Batavia (Jakarta, pada saat ini), dia mendapat beasiswa untuk meneruskan pendidikan disekolah kedokteran yang bernama S.T.O.V.I.A yang diperuntukan untuk Pribumi, dan mulai dari situlah Minke mulai berkenalan dengan petinggi Hindia, bahkan Minke sampai bersahabat dengan Gubernur Jendral Hindia pada saat itu. Namun semua terjadi bukan bergitusaja, namun karena semua petinggi Hidia pada saat itu merasa kagum dengan tulisan-tulisan minke, dan tak percaya bahwa tulisan itu ditulis oleh seorang pribumi.

Dalam kisah ini tak melulu tentang pergerakan Minke dalam memanjukan bangsa yang dicintainya, namun terselip juga kisah cinta Minke dengan seorang aktivis dari negeri China (Sekarang Tionghoa) bernama Ang San Mei, dan juga seorang Prinses Van Kasiruta, putri seorang raja Maluku.

Namun Minke tidak dapat menuntaskan pendidikan Kedokterannya di S.T.O.V.I.A karena dia dipecat, dan diwajibkan mengembalikan seluruh beasiswa yang telah diberikan Gubermen, yang amat sangat besar, sehingga direktur kampusnya sendiri pun tak yakin Minke akan sanggup membayarnya, namun ternyata Minke menyanggupi besaran biaya yang harus dia kembalikan.

Setelah dikeluarkan dari S.T.O.V.I.A Minke kembali menekuni dunia lamanya, yaitu Jurnalistik, dan sampai akhirnya dia mendirikan sebuah organisasi dengan nama Syarikat Priyayi, dan ini merupakan awal mula lahir dan terbitnya Koran mingguan Medan Priyayi, dan mendapat perhatian dari masyarakat. Namun organisasi yang digagas oleh Minke tak mampu bertahan karena banyak anggota yang vakum, namun Minke berhasil menyelamatkan Medan Priyayi sehingga mampu tetap eksis memberikan pencerahan kepada masyarakat.

Belajar dari pengalamannya Minke memikirkan tentang hal apa yang mampu menyatukan suatu organisasi, hingga akhirnya Minke menyadari bahwa perdagangan mempu menjadi alat pemersatu, maka didirikanlah Syarikat Dagang Islam (S.D.I). tanpa diduga SDI berkembang dengan pesat, dengan berkembangnya SDI yang begitu pesat muncul gerombolan-gerombolan yang ingin merusak dan mengancam eksistentsi SDI, tak jarang gerombolan, gerombolan itu melakukan kekerasan, sehingga mendorong anggota S.D.I. belajar bela diri, yaitu pencak silat. Pencak silat mulai berkembang dan dipelajari oleh kaum pribumi untuk membela diri dari ancaman gerombolan pengacau tersebut.

Namun ancaman-ancaman yang diberikan oleh gerombolan-gerombolan tersebut tak berarti bagi SDI, dan SDI masih tetap eksis bahkan Medan dan SDI semakin berkembang. Akhirnya Minke mendelegasikan pekerjaannya kepada orang-orang yang diapercaya, dan dia berminat untuk menjadi seorang penyebar propaganda untuk memberikan penyadaran kepada teman sebangsa yang memiliki nasib serupa yaitu terjajah.

Namun kenyataan berkata lain, Minke gagal untuk menyebar propaganda karena Medan dipreteli dan kantornya disegel, karena dianggap menyebar berita yang menghina Gubernur Jendral. Rumah Minke didatangi oleh polisi dan Minke diberi surat penahanan atas “Hutang bangsa Tuan Minke, yang diatas namakan pribadi Tuan”. Kejadian ini sangat dramatis, hingga Minke dibawa, ia menyempatkan menuliskan sepucuk surat kepada istrinya melalui pembantu rumahtangganya. Dan Minke pun diasingkan dari Pulau Jawa.